HomeEsai & OpiniAnis Matta: Nasionalisme bagi Seorang Islamis

Anis Matta: Nasionalisme bagi Seorang Islamis

Esai & Opini 0

Share this:

Komitmen kita pada demokrasi dan nasionalisme haruslah kuat. Pada dasarnya, di semua negara Islam, tidak ada penolakan Islam sebagai nilai. Toh sekarang ini kekuatan sekulerisme di dunia Islam sudah habis. Sama sekali tidak menarik lagi. Sekulerisme adalah buah pemberontakan pada suatu masa dalam sejarah Eropa. 

Setelah selesai, orang-orang kembali secara natural pada agama. Dalam istilah Sayyid Quthb, sekulerisme itu “pemberontakan manusiawi yang sementara”. Hal ini dipicu oleh disiplin dalam pemahaman gereja dan negara, yang diawali oleh temuan-temuan sains baru. Tapi, setelah itu, orang berpaling. Tidak ada lagi faktor pemicu yang lama. Masa pemberontakannya sudah selesai. Tapi, yang paling berat setelah renaisans adalah ketika memasuki era industri. 

Saat sains benar-benar mengubah pola hidup dan kerja masyarakat dalam skala besar dan masif. Begitu orang masuk kembali ke era informasi, pekerjaan manusia diambil alih oleh mesin. Akhirnya, fokus mereka pada informasi dan ide-ide. Artinya, manusia lebih banyak untuk kerja-kerja intelektual dibandingkan kerja-kerja fisik yang sudah diambil alih mesin. Ketika kita melihat dunia pertanian disentuh oleh teknologi, output-nya lebih dahsyat, hasil pangan lebih melimpah dari sebelumnya tapi daya serap tenaga kerjanya lebih kecil. 

Begitu pula bidang industri dan manufaktur, jauh melimpah hasilnya tapi daya serap tenaga manusianya kecil. 

Begitu orang masuk era informasi, artinya mereka lebih banyak punya waktu secara sosial untuk berinteraksi. Karena itu, fenomena sosial yang ada di era industri, seperti perceraian, relatif menghilang. 

Anak-anak yang tumbuh di era informasi ini adalah anak-anak yang trauma kepada orangtuanya pada masa industri. Maka, cita-cita mereka—kaum milenial—adalah membangun keluarga. Bagaimana cara mendapatkan keluarga lebih banyak, kerja lebih sedikit. Kira-kira begitu idenya. Life style-nya tidak bisa diubah. Begitu Anda sampai di sini, inilah masanya Anda punya waktu memikirkan concern. Begitu selesai dalam hal-hal basic, mereka akan beralih ke soal-soal spiritual. 

Akhirnya secara natural orang kembali memikirkan agama tanpa membawa dendam, tidak seperti yang dimiliki para saintis kepada gereja di abad pertengahan. Ini yang terjadi. Maka, di tahap ini, secara natural, sekularisme akan mati. Dan sekularisme bukanlah lagi musuh. 

Musuh Islam sekarang tinggal kediktatoran yang berhubungan dengan demokrasi. Demokrasilah yang bisa menghilangkan kediktatoran itu. Kalau ini sudah terkombinasi—Islam, demokrasi, dan nasionalisme—kita tinggal memikirkan output-nya saja, yaitu kesejahteraan.

Terkait fenomena umat Islam di Indonesia hari ini, yang terjadi sebenarnya adalah proses kebangkitan dalam pemahaman keagamaan. Pada sebagiannya memang mengalami proses radikalisasi. 

Tapi, ini tidak akan berkembang terlalu jauh. Karena militansinya ke dalam, tidak ekspansif ke luar. Kelompok Islam itu semakin militan, semakin membaik tapi tidak ekspansif wilayah pada zona yang lain. Tapi, hanya kristalisasi di dalam. Ide Syeikh Rached Ghannouchi dalam konteks ini adalah tentang kaum Islam politik yang ingin memimpin suatu negara (nation state) yang beragam. 

Beliau ingin melampaui sekat-sekat ini supaya yang kanan ini bisa ke tengah memimpin semua kelompok—kanan, kiri, tengah. Ini idenya beliau. Ketika beliau membuka ide ini, sebenarnya di mana titik persinggungannya? Persinggungan antara yang kanan dengan kiri ada pada ide kesejahteraan sosial, ide tentang distribusi ekonomi. Dan persinggungan antara yang kanan dengan yang tengah adalah di ide Islam dan negara. Ini kanan, Islam; ini tengahnya, nasionalis; yang ini kiri. Titik persinggungan di masing-masing ini. Semuanya ada dasarnya. 

Makanya, seperti kasus di Indonesia, ketika Pak Harto memimpin dengan demokrasi Pancasila, mereka merumuskan platform yang semua entitas bisa masuk ke dalamnya. Seperti kita membuat marketplace; semua dagangan bisa masuk di situ, sama persis seperti itu. Begitu pulalah yang dibuat oleh founding fathers kita. 

*) petikan wawancara khusus dengan M. Anis Matta pada 17 Mei 2019 di Yogyakarta. Teks lengkap wawancara dibuat untuk penyusunan buku penulis tentang gagasan Rached Ghannouchi dan Muslim Demokrat di Arah Baru karya Yusuf Maulana (masih proses).

Share this: