HomeEsai & OpiniBola Tanpa Takut Ajax

Bola Tanpa Takut Ajax

Esai & Opini 0

Share this:


Di Madrid dan Turin, dua petarung besar ditumbangkannya. Ditaklukkan dengan hasil membalikkan perkiraan banyak analis. Di Madrid dan Turin, dua kemustahilan dihadirkan dengan decak kagum tanpa basa-basi. 

Sebelas remaja ingusan Ajax Amsterdam dalam Liga Champions UEFA 2019 adalah cerita epik selepas dominasi generasi Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Di arena lawan yang menakutkan, anak-anak asuh Erik ten Hag begitu gahar tanpa ampun menari dan menerjang. Tak kenal henti memesona penonton meski dalam matematika banyak orang mereka pantas masuk kotak. Di babak 16 besar, Real Madrid dihentikan di hadapan pendukung fanatiknya: 1–4. Babak berikutnya, Juventus, yang dikenal kaya pengalaman tumbang, juga di hadapan fans fanatiknya: 1-2. 

Kisah keberhasilan Ajax mengatasi kemustahilan jelas bukan capaian sembarangan. Apatah lagi ketika kedua klub raksasa itu di atas angin karena torehan skor di pertandingan pertama. Di kandang Ajax, kedua Madrid dan Juventus mampu memetik keuntungan dibandingkan Frenkie de Jong dan kawan-kawan. Nama legenda bola Belanda yang disemat sebagai stadion Ajax, Johan Cruijff ArenA, jauh dari kata angker. Madrid membobol dua gol sebelum dibalas satu gol saja. Bersyukur ketika Juventus bertanding, mereka hanya ditahan imbang 1-1.  

Pergerakan rancak, energik, penuh determinasi yang ingatkan orang atas hadirnya Total Football di kaki-kaki anak milenial Ajax dalam waktu cepat segera jadi buah bibir publik bola. Mereka kuda hitam yang siap menantang siapa pun klub calon lawannya. Mengalahkan Madrid dan Juventus menggaransi sesiapa saja yang mau bertanding dengan mereka haruslah pintar mengatur taktik. Mereka merebut perhatian pencinta bola, terutama yang mendamba lahirnya juara baru. 

Tapi tangga menuju juara tak selinier itu. Dalam gempita sanjungan dan perhatian mata ke orkestrasi Ajax di bawah baton sang kapten, Matthijs de Ligt, sebenarnya ada yang kurang mendapat perhatian. Kehebatan menyingkirkan dua raksasa Eropa di kandang masing-masing seakan menutupi fakta bahwa ada yang tak beres bila para sinyo dan kompatriot seklub itu bermain di kandang. Seakan sudah tak penting lagi memikirkan kekalahan di kandang, selagi di laga tandang bisa menang.  

13 Desember 2018. Enam gol bersarang di kedua gawang. Lagi-lagi markas Ajax yang berkapasitas 54.033 penonton enggan dirisaukan. Bermain di sana seolah tempat nyaman tim tamu dalam kembangkan permainan. Di babak penyisihan, Bayern München dan Ajax bermain imbang 3-3. Saling kejar demi meraih posisi puncak grup. Hasil seri juga terjadi ketika keduanya bertemu di München  pada 3 Oktober 2018. Tendangan Naoussair Mazraoui yang bekerja sama dengan Dusan Tadic membobol gawang München guna menyamakan kedudukan: 1-1.

Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, Dusan Tadic, Hakim Ziyech, Naoussair Mazraoui, Donny van de Beek, dan nama-nama yang lain adalah sekumpulan kosmopolit yang punya visi plus nyali besar. Satu identitas yang memadai sebagai generasi akrab gawai yang biasa diperhubungkan tanpa relasi berhierarki. Mereka tak peduli siapa yang hadir di hadapannya, hatta itu digelar di markas lawan yang acap digadang-gadang menakutkan.

Maka, jadilah, kampung lawan bak rumah sendiri. Santiago Bernabéu ataukah Allianz Stadium begitu dekat dan tak berjarak buat mereka. Mereka asyik dengan dunia dan visinya: kemenangan. Dan itu berhasil 100 persen, kendati sering diremehkan mulanya. Sayangnya, penguasaan kandang di benak anak-anak kosmopolit sekadar simbolis yang tidak lagi penting. Esensi permainan bagi mereka hanya soal kemenangan. Kemenangan yang menghibur lewat permainan menyerang. Tentu saja ini atraksi memikat bagi penikmat bola sepak. 

Tapi nanti dulu, pertarungan bola tak semata soal kemenangan yang tersaji hanya dengan visi kosmopolit dan keberanian bermain terbuka di kandang lawan. Perayaan tiadanya lagi pembeda mana kandang dan tandang merupakan ciri kosmopolitan pesepak bola Ajax. Mereka haus mencipta gol demi gol, dan tak penting di mana itu tercipta.

Di sinilah ada paradoks tercipta. Ketika batas-batas mana kandang dan tangan ditiadakan, demi kemenangan sekalipun, satu sisi memang menunjang jiwa-jiwa atraktif menikmati permainan bola. Inilah ruang humanisme yang tercipta dari visi kosmopolit Ajax. Ia memanusiakan pesepakbola hingga pemirsa di layar kaca. Di sisi satunya, tiadanya batas itu malah rentan jadi bumerang. Simbol kegagahan dan keangkeran arena Ajax nyaris minim bahkan tiada. Semua lawan bisa bergaya; mengekspresikan gaya bermain terbuka untuk meladeni tuan rumah yang bermain penuh ceria bertukaran posisi pemainnya dalam langgam bola racikan Rinus Michels.

Bila bola sepak bisa dianggap representasi etos—bahkan mungkin saja filosofi—sebuah bangsa, Total football tidak lain par excellence  dari wangsa Londho. Bangsa yang digemakan Soekarno sebagai penjajah Nusantara selama 350 tahun—meski angka ini sekadar mistifikasi si Bung. Belanda adalah kejeniusan meracik produk yang awet dan memikat dinikmati. Ia bak gagasan menghubungkan antar-kota di Jawa demi produktivitas ekonomi kolonialis Hindia-Belanda lewat pembangunan jalan raya Anyer sampai Penarukan.

Visi Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels ini adalah soal kemenangan kolonial. Bagaimana semua terkoneksi dengan cepat dan cantik hingga jadilah gol kemenangan berupa aliran dana ke pundi-pundi penguasa di Batavia dan Negeri Belanda sana.

Visi perhubungan meneer Belanda itu sayangnya sebentuk ego penjajahan. Ingin memanusiawikan tapi hanya sebangsanya saja. Lupa bagaimana memandang manusiawi negeri yang dijajah. Asyik atraktif lewat pesona yang menghujani Den Haag dengan kekayaan tak berkira dengan permainan “indah” bernama muslihat dan mufakat jahat pada pribumi.  Serupa ketika Politik Etis yang tertulis indah dan manusiawi, nyatanya hanya bentuk lain bagaimana si penjajah asyik menyerang di kandang lawan.

Lagi-lagi lupa bagaimana memperlakukan negeri jajahan, yang berkedudukan selaku negeri tandang namun karena dijajah berarti sekaligus kandang sendiri. Pribumi sebagai kandang sendiri bercokol tidak diperhatikan. Yang dipermainkan adalah visi bagaimana menaikkan prestise Kerajaan Belanda di pasaran ekonomi kapitalis Eropa yang dipegang sejak para kolonialis berperahu layar. 

Begitulah satu visi memandang kemenangan dan keasyikan menyerang di laga tandang di arena lawan diperagakan anak manusia Belanda. Memandang penguasaan markas lawan selalu berarti akhir kemenangan perjuangan. Asyik menjajah Nusantara sampai kemudian mereka lupa ada kekuatan di Eropa yang secara cepat menaklukkan negara sarat kanal itu. Dari Prancis sampai NAZI pernah menduduki Belanda. Kuat tampak mustahak dikalahkan bagi orang-orang Nusantara, tapi sebenarnya rapuh di mata sesama kulit putih bermata biru. Begitulah paradoks yang menghadirkan tragedi kejatuhan Belanda sebagai negeri yang jumawa dengan penguasaan alam dari Nusantara.

Visi kosmopolitan mereka tidak berakar dengan cara membaca situasi dan akar budaya yang berkembang di masyarakat setempat, Nusantara. Menaklukkan lawan “selemah” di seberang bernama Nusantara akan sia-sia bila“stadion” sendiri mudah tumbang oleh lawan sebelah. Tapi bukan Belandang namanya, yang adrenalin VOC di sini merupakan para sekutu yahudi zionis, kalah pun bisa disiasati selagi ada negeri jajahan yang bisa mengompensasi.

Serupa pula itu kita memahami alam jiwa generasi anak berpinak mereka di era de Light, de Jong dan kawan-kawannya dalam naungan Ajax Amsterdam. Kosmopolitan mereka mengabaikan simbol tradisional berupa pentingnya menjaga kesakralan marwah di kandang. Bukan rela lawan mempecundangi di kandang sendiri dengan asumsi: masih ada keuntungan diam-diam di sebalik itu.

Oh tidak!  Era de Light, de Jong dan kawan-kawannya beda dengan moyangnya yang walau tanah airnya ditaklukkan bangsa sebelah, nyatanya mereka masih ada aset kekayaan besar di negeri seberang.

Ya, bangsa kita ini: Indonesia. Tapi bagaimana dengan para petarung Ajax yang asyik temaram dalam peragaan bola elok di kandang lawan tapi justru abai dengan penguasaan simbol keangkeran kandang sendiri?

Jadilah, keberingasan anak-anak Ajax di markas lawan sebenarnya dan membiarkan kandang dikuasai lawan malah membentuk pola. Bila kekalahan di kandang, mereka akan kuat bernafsu penuh ambisi dan gelegar yang luar biasa. Ke sana kemari memerankan diri sebagai kesatria Abad Pertengahan yang ingin meraih impian di tanah yang dijanjikan para paus.

Tak kenal letih dan putaran waktu menggulirkan bola sampai peluit wasit menera skor kemenangan diletakkan kepada mereka. Lantas bila pola kekalahan di kandang dan memang di tandang di balik, bagaimana yang terjadi?

Itulah lubang konsekuensi kosmopolit mereka. Lawan mendapati pola sampai kemudian meracik taktik yang bisa meredam tradisi anak-anak Ajax yang tak begitu “bernafsu” menghayati keriuhan para pendukung fanatiknya di kandang. Jiwa mereka seakan hanya menang di kandang lawan, dan untuk itu akan ada gemuruh pujian yang ujungnya melesatnya karier para petarung belia tadi di pasaran pemain bola dunia.

Dus, adakah jiwa untuk berlaku sebaliknya sebagai konsekuensi tiadanya batas keangkeran stadion kandang sonder tandang? Yakni ketika tidak lagi obsesi militan lagi spartan pada pudarnya simbol stadion yang bagi banyak klub merupakan sebuah kebanggaan hakiki?

* * *

Adalah Mauricio Roberto Pochettino Trossero, el latino Argentina yang mampu menghayati lubang Ajax. Ia boleh sedih ketika di kandangnya, anak-anak asuhnya ditaklukkan 0-1. Itu lakon bukan akhir segalanya. Pochettino merasakan ada isyarat kemenangan dengan hanya dibobolnya satu gol gawang Tottenham Spurs  di laga kandang. Hanya gol semata wayang yang berhasil diceploskan Ajax; bandingkan dengan spartan mereka di laga tandang kala bersua Madrid dan Juventus. Spurs tidak sementereng dua klub yang dijungkalkan Ajax. Di sinilah laga berposisi tukar, dengan putaran kedua menempatkan Ajax sebagai tuan rumah, merupakan medan rawan. Sekali lagi, Pochettino paham ada pola di sana.

Nyaris saja dua gol di babak pertama yang dihujankan Ajax bakal menenggelamkan pembacaan Pochettino. Jose Mourinho boleh saja mencibir taktik ten Hag. Tapi mari balik ke kerapuhan ketika kosmopolitan para belia dibaca lawan. Serang dan serang, dan lakukan seolah di rumah sendiri! Agregat gol yang sudah menyamankan rupanya awal petaka.

Betul, anak-anak Ajax teruji untuk mengejar ketertinggalan dan kekalahan. Dan mereka menyiapkan struktur mental itu tanpa menyiapkan skenario berkebalikan. Yakni bagaimana bila lawanlah yang mengincar posisi mereka di Amsterdam pula. Energi dan motivasi yang luar biasa ditampilkan Son Heung-min dan, si bintang lapangan, Lucas Moura. Mereka yang terabaikan ini manifestasi pelengkap akar yang diabaikan Ajax. Spurs bermain dengan kesadaran bahwa mereka bak melakoni laga kandang di jazirah Britania. Tak penting soal berapa telah kebobolan di sana. 

Sering kali kosmopolitan terlalu “berbaik hati” pada lawan. Ia terlalu menjaga supremasi idealisme tanpa sadar apa hakikat bertarung ataupun bertempur. Humanisme yang didambakan harus hadir demi memesona penonton bola, harus jadi agunan dari sebuah lakon kekalahan yang ujungnya tragedi air mata.

Kosmopolitan sering lupa akan kekejaman akar yang diabaikan tapi berhasil direngkuh lawan. Di hadapan pendukung sendiri pula. Ia sering gigih membumikan satu filsafat dan estetika yang diyakini bakal menghadirkan kemenangan. Nyatanya, humanisme di balik dambaan kemenangan nilai itu dikerdilkan dan—akhirnya—dipaksa tunduk pada ambisi penguasaan. 

“Rasanya seperti tanah itu menghilang,” ucap de Light tentang kekalahan tragis 2-3 De Godenzonen atas Spurs di Ramadhan hari keempat di tatar Nusantara secara umum. Kekalahan yang amat sangat menyakitkan bagi ribuan fanatikus Ajax, di mana pun kiranya. 

Mendengar suara de Light ini seperti suara bergema Sjahrir yang harus menyaksikan terkuburnya impian kosmpolitanismenya di tengah Republik yang ia turut bidani. Bukan berarti kalah, memang. Tapi, ia kalah oleh pengkhianatan dan kediktatoran, yang semua itu mestinya bisa dibaca bakal adanya kalau Sjahrir mau “realistis” dalam perjuangan kemerdekaan. Ia terlalu ingin jadi warga dunia tanpa sekatan primordial. Lupa bahwa bangsanya belum selesai di urusan ini—bahkan hingga hari ini. 

* * *

Sejujurnya, dalam perenungan saya, tersingkirnya Ajax dari kesempatan tampil di final Liga Champions UEFA 2018/2019 lebih menarik bagi aras dinamika ke depan Arah Baru Indonesia. Ajax adalah impian dan idealisme untuk mewarnai satu tatanan yang monoton. Ia hadir bukan dengan gagasan yang benar-benar genuine sejatinya. Tapi ia datang dari satu pemikiran yang bersambung dengan masa lalu (Total Football) yang diperbarui sesuai zeitgest pesepaknya.

Jiwa-jiwa beliau itu dibebaskan untuk menafsiri racikan yang awalnya dibesut Meneer Rinus Michels. Ten Hag mampu mengelola impian para belia De Godenzonen sebagai jiwa kosmopolit: yang ditandai obsesi pada kemenangan, visi kebesaran, dan tiadanya sekatan arena tanding.

Gagasan meneruskan pemikiran klasik pada Arah Baru Indonesia pun serupa. Ia adalah proyeksi dari narasi yang pernah diasakan Imam Syahid Hasan al-Banna. Karena ada keterputusan dan ketidaksesuaian dengan perubahan lingkungan, menjadi niscaya untuk melakukan ijtihad baru yang bisa mengarahkan apa yang sesungguhnya tepat bagi pertubuhan aktivisme Islam di Indonesia. Patron dan visi Timur Tengah tidak lagi menjadi kecenderungan. Yang ada komitmen untuk melebur sebagai warga dunia dengan identitas Muslim dan Indonesia. 

Arah Baru Indonesia serupa Ajax; dipertautkan dengan cita kosmopolitan. Lesatannya bukan semata elektoral di negeri ini. Amat sayang bila moda gerakannya sekadar mengurusi perebutan kursi. Tapi, politik lokal bangsa tidak bisa pula dipinggirkan. Sebagaimana tak boleh mengulang kesalahan Ajax menghilangkan batas keangkeran stadion.

Kebebasan meniadakan batas sebagai awalnya, dalam konteks gerakan Arah Baru Indonesia bermakna batasan-batasan itu sesungguhnya tetap ada. Tinggal dimaknai kesakralan yang bagaimana agar sepadan dengan kosmopolitan tadi. Inklusif, dialogis, egaliter, dan merakyat (INDEK) harus menginternalisasi di aktivis Arah Baru Indonesia agar kosmopolitanisme tidak tercerabut dari akar budaya. Watak dasar INDEK satu di anaranya. Ia harus jadi keangkeran yang bisa membedakan sekaligus “meneror” kelompok-kelompok konservatif (baik di sayap kanan maupun kiri) yang mapan ada sebelumnya.

Cita-cita ideal, yang dikonversi secara praktis—salah satunya—menjadikan Indonesia kekuatan 5 besar dunia, berarti mensyaratkan kesiapan untuk menjadi warga dunia. Ini kalau klaim dalam orasi dan syarahan para tokoh Arah Baru Indonesia memang faktual ke arah kosmopolitan mengamalkan Islam jalan tengah (wasathiyah) di republik ini.

INDEK, selaku watak dasar alias fondasinya, dengan demikian bukan sekadar basa-basi belaka. Ia adalah komitmen teguh sebagaimana anak-anak Ajax ingin merengkuh kemenangan di kandang lawan. Tapi ia juga akar budaya yang tidak ingin diabaikan; sebaliknya, merupakan kekuatan penanda yang membeda dan “menakutkan”. Dengan begitu, ada diferensiasi mana kutub Ikhwani qaul qadim dan qaul jadid dalam aras gerakan pelanjut al-Banna ini di Indonesia. 

Tentunya ada banyak agenda agar penguasaan pelbagai sektor, di kandang maupun tandang lawan, direngkuh Arah Baru Indonesia. Di sinilah elan vital Gerakan Arah Baru Indonesia hadir bila ingin memadankan keindahan-kemanusiaan, rahman dan rahim Islam di Indonesia dalam arus gerakan tengah. Ia harus bisa lincah menari-nari di mana saja dengan pembeda jelas. Di mana pun bertanding, Gerakan Arah Baru Indonesia memeragakan ofensif tanpa batas. Tapi kemenangan yang didamba, tidak lantas menyamakan euforianya dengan momen yang sama dirayakan oleh kekuatan kokoh yang ada hari ini; apa pun sayap politiknya. 

Sebab, kemenangan di Arah Baru Indonesia sejatinya adalah kebersamaan untuk menikmati proses yang ada, dilanjutkan untuk bersama-sama saling mengisi di antara pemegang amanah kuasa dan pihak oposan. Sebagaimana “fitrah” anak-anak Ajax ditempa sejak akademi bolanya untuk terus mengalirkan bola ke depan dan bersiap merengkuh kemenangan. 

Dengan catatan, tetap memandang kekuasaan sebagai dialektika yang rumit dan menyimpan misteri. Tidak dianggap manusiawi, lugu, tanpa pretensi, hingga lawan pun mempermainkan kita di kandang sendiri—serupa para seteru bola Ajax yang tak merasa berhak buat takut pada de Light dan sekawanannya. []       

Share this: