HomeEsai & OpiniDusta yang Menggontai Percaya

Dusta yang Menggontai Percaya

Esai & Opini 0

Share this:

Tidak ada manusia yang pengorbanan dan keikhlasannya melebihi Abu Bakar. Segenap jiwa dan harta bahkan keluarga, ia sediakan bagi kejayaan risalah Islam. Tidak pernah ada sesal dan cemas saban ia berkorban. Berkorban yang sepenuh jiwa tanpa memikirkan konsekuensi setelah itu di dunia. Baginya, cukuplah Rasulullah yang jadi agunan.

Pada orang sebagai pembenar, ash-shiddiq, itulah justru ujian bagi Abu Bakar tak dinyana berkutat keluarganya dan rumah tangga Rasulullah. Embusan gosip perselingkuhan Aisyah, sang putri tercinta, dengan sahabat Shafwan Ibnul Mu’aththal mengguncang Muslimin. Tak terkecuali Abu Bakar.

Gosip yang diembus orang-orang munafik itu di teruskan sebagiannya oleh para sahabat. Bahkan inilah yang membesarkan daya guncang gosip.

Rumah tangga Abu Bakar ikut tersebut. Dan itu tak sesekali. Bahkan isi pembicaraannya sudah di luar batas. Sekali lagi, ini diperbuat malah oleh sesama al-akh. Bukan siapa-siapa, terlepas aktor utama awal yang membuat gosip adalah kalangan pembenci dakwah Islam.

Diungkapkan Syeikh Munir Muhammad al-Ghadban dalam Manhaj Haraki, akibat gundah berat tersebab gosip fitnah tapi kadung dianggap fakta, Abu Bakar tak bisa bicara apa-apa selain membuat kata-kata yang mengiris hati.

“Saya tak pernah melihat satu pun keluarga di kalangan bangsa Arab yang mengalami cobaan seperti yang dialami keluarga Abu Bakar,” terang Abu Bakar.

“Demi Allah,” lanjutnya, “omongan-omongan ini tak pernah diucapkan orang terhadap kami di zaman Jahiliyah, di kala kami tidak menyembah Allah. Tetapi di masa Islam, justru kami mengalaminya!”

Haditsul ifki, kabar dusta, hoaks dalam bahasa kita kini, adalah tentang kita: polah orang-orang beriman. Pada kejadian ini dan ayat-ayat yang turun buat membersihkan nama baik Aisyah dan Shafwan tertuju pada muslimin yang beriman. Bukan ke kalangan munafik, yang malah pelaku awak. Begitu pembacaan Syeikh Munir Muhammad al-Ghadban.

Tata kelola isu bagi gerakan Islam seyogianya sampai membahas soal seteru isi rumah tangga. Dan ini yang banyak terjadi dengan ujung perpisahan selamanya. Bahkan perpisahan yang hadirkan dendam. Pada awalnya adalah kata. Kata yang berisikan fitnah. Tapi kita sebagai al-akh malah mempercayai.

Meyakini dan memperluas ke orang-orang yang kita percaya bakal menjaga marwah dakwah. Malah modus menyebarluaskan juga demi dakwah, demi tegakkan risalah Ilahi.

Tapi kita lupa, niat baik itu bermodalkan fakta dusta. Kita mudah percaya begitu saja. Janganlah enteng berkata, “Kan tinggal periksa!”  Nyatanya pada kejadian menimpa Aisyah, berapa banyak sahabat yang memilih memeriksa atau menolak gosip rumah tangga Baginda?

Kata-kata Abu Bakar tadi sungguh mewakili mekanisme jiwa kita hari ini. Saat masih jahiliah, belum terwarnai cahaya Islam, kita malah bisa bersikap dewasa dan manusiawi bilamana ada kejadian mendera sesama. Isu peka bisa kita dekati dengan kepala dingin. Kalaulah termakan pun kita masih hati-hati, tak enak menyebarluaskan.

Heran sungguh heran, saat kita sudah dicelup dakwah, malah ghirah kita hadirkan gairah membela yang kita anggap kebenaran. Militansi sikap kita tak beda dengan sebagian sahabat yang termakan embusan Abdullah bin Ubay. Tidak pakai logika dan demi sayang pada Rasulullah belaka. Lupa bahwa kendati manusia biasa, toh Aisyah juga berhak dipercaya kata-katanya. Nyatanya? Syahdan, Ali yang cerdas pun nyaris tergelincir dalam kejadian ini.

Dalam pusara konflik perasaan semisal rumah tangga Rasul, kita pun bisa menarik ini dalam kejadian rumah tangga harakah kita ataupun organisasi kita. Perasaan yang bermain pada orang-orang beriman itu wajar dan normal saja. Pun ketika jatuh untuk enggan memeriksa fakta dusta lantas membuat tuduhan atau sekadar turut barisan dengan isi tuduhan. Tapi kewajaran inilah yang dikoreksi Quran.

Haditsul ifki adalah cermin bagaimana mestinya muslimin atau tegasnya mukminin bersikap ajek dan tidak berlekas membenarkan isi kabar miring. Kata-kata Abu Bakar adalah ukuran seberapa ajek jiwa kita saat diuji dengan fitnah yang mendera pimpinan gerakan. Soal selingkuh bisa saja berubah wujud ke soal harta, afiliasi ideologi, hingga tetap seputar perempuan atau lawan jenis. Intinya, hal-hal manusiawi di sekitar anutan kita terbuka untuk jadi komoditas pemecah belah.

Mengapa kita bisa beda antara sebelum Islam hadir dan setelah itu? Kata-kata Abu Bakar ini menggelayut di pikiran saya. Protes halus Abu Bakar lebih bermakna buat hadir di jiwa kita. Teringat berapa beberapa orang yang akhirnya menyintas kubu dan jadi militan membenci gerakan dakwah, salah satunya, disebabkan cara kita mengartikukasi ghirah berislam.

Kita dengan fakta ala kadar begitu tajam menghakimi al-akh yang masih berhak dipercaya untuk membela diri. Tapi kita bertubi-tubi menghakiminya. Enggan memercayai kata-katanya.

“Demi Allah, omongan-omongan ini tak pernah diucapkan orang terhadap kami di zaman Jahiliyah, di kala kami tidak menyembah Allah. Tetapi di masa Islam, justru kami mengalaminya!”  Kalimat Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu ini tampaknya perlu disematkan di ingatan bahkan kendaraan juga dompet kita. []

Share this: