HomeEsai & OpiniFiqh Ta’ayusy

Fiqh Ta’ayusy

Esai & Opini 0

Share this:

Kasus pelarangan seorang kader militan partai Islam di kota kami, dari kesempatan berbicara di majelis ilmu sebuah kampus berasrama, menyentak kesadaran saya. Bukan soal sebab larangannya, yakni ada kecemasan si kader itu terindikasi bagian dari “kelompok pengkhianat” yang kini berada di barisan luar-partai tersebut.

Prosedur melarang majelis ilmu, metode penindakan, konstruksi berpikir memandang masalah perbedaan, dan hal-hal teknis terkait perselisihan dalam pergerakan dakwah (pernah) sejamaah, mengingatkan saya pada beberapa syarahan Dato DR. Siddiq Fadzil dari negeri jiran.

Mantan ketua ABIM inilah yang kali pertama mengenalkan pada saya sebuah khazanah baru: Fiqh Ta’ayusy. Khazanah ini pula yang saya temui ketika mendaras gagasan Syeikh Rachid Ghannouchi.

Sebuah kerangka berpikir berpijak dari Sirah Nabawiyyah dalam memandang perbedaan dalam kebersamaan. Satu cara memandang beda, seteru, konflik, dan perdebatan dengan cara enteng lagi ilmiah.

Sebab, koeksistensi dalam tubuh harakah dakwah sebuah keniscayaan ketika kejamaahan disadari sebagai ikhtiar menegakkan kebaikan bersama liyan, bersama elemen lain umat, siapa pun itu.

Kolaborasi dan sinergi itu tak berarti menihilkan potensi perbedaan meruncing; justru sebaliknya, bagaimana menjadikan beda yang ada—setajam apa pun itu—sebagai aset.

Kiranya *Fiqh Ta’ayusy *mesti terus digali dan ditanamkan sebagai mindset aras berpikir pegiat dakwah. Entah yang setia menegakkan diri di pinisi lama ataukah yang melajukan jung di arah baru. []

Share this: