HomeEsai & OpiniHal-Hal yang Sebaiknya Anis Matta, dkk, Lakukan

Hal-Hal yang Sebaiknya Anis Matta, dkk, Lakukan

Esai & Opini 0

Share this:

Anis Matta adalah seorang orator handal. Tak ada yang bakal menyangkal fakta ini. Gaya bicara, pemilihan bahasa, serta bagaiamana ia menyampaikan ide dan gagasan, sangat runtut, enak di dengar dan bagi sebagian orang —walau terkesan berlebihan; menghipnotis.

Sebagian besar dari kita pasti pernah kagum dengannya. Kalau akhir-akhir ini, gara-gara ada konflik di partai yang ia besarkan, tiba-tiba menjadi benci, itu lain soal. 

Pernah saya menonton satu sesi saat ia diwawancara oleh Wimar Witoelar di CNN. Dan kita tahu, Wimar termasuk salah seorang yang skeptis terhadap ide-ide yang dibawa Anis Matta. Namun di akhir dialog itu, bahkan Wimar pun mengangguk-angguk pada jawaban-jawaban yang Anis lontarkan. Kamu bisa melihat rekamannya di Youtube.

Tapi, Anis Matta bukan tanpa kritik. 

Saat saya bilang kritik bukan berarti Anis Matta salah lho ya. Biasanya orang menyangka kalau kita mengkritik seseorang, maka yang dikritik itu berbuat salah. Bukan begitu. Kebanyakan orang senengane salah paham.

Pertama, saya menilai apa yang disampaikan Anis masih terlalu “ngawang-ngawang.” Gagasannya tentang Arah Baru Indonesia belum bisa diterima masyarakat awam dengan jelas. Karena itu selalu muncul pertanyaan; apa yang baru? atau bagaimana cara melakukannya?

Memang sudah seharusnya Anis bicara hal-hal besar. Karena ia berada di puncak. 

Ingat kan, yang diingat dari pidato Martin Luther King juga cuma “I have a dream.” Yang di ingat dari pidato Obama juga cuma “Change!” 

Tugasnya memang memberikan visi, dan tugas orang-orang yang setuju dan sepaham dengan visi itu yang bertugas untuk mewujudkan dan mengembangkannya.

Maka, hal pertama yang sebaiknya Anis Matta, dkk, lakukan adalah mengembangkan narasi-narasi besar itu ke dalam tataran yang lebih sederhana. Agar masyarakat awam, seperti saya, mampu mencernanya dengan mudah dan dengan enak. 

Pun tidak hanya itu, namun juga melakukan usaha-usaha kongkrit agar wacana itu tidak berhenti pada wacana semata, tapi berubah jadi gerakan yang S.T.M; Sistematis, Terstruktur dan Massif.

Kedua, bila gerakan yang ingin Anis bangun adalah gerakan politik, maka sudah sewajarnya Anis bicara lebih banyak dengan tema-tema politik nasional. Bahwa sebagian besar karyanya punya pengaruh besar dan memberi makna bagi orang-orang yang membacanya, tentu hal itu benar adanya.

Namun bila melihat sebagian besar karyanya, misalnya Serial Cinta, Menjadi Pahlawan Indonesia, 8 Mata Air Kecermelangan, dan lain-lain, rata-rata temanya adalah pengembangan diri. 

Lah, Anis kan seorang pemimpin gerakan politik bukan motivator bukan? Maka tak ada salahnya ia juga menulis tentang kondisi politik nasional. Dan dengan intesitas yang lebih sering. Yah, misalnya seperti Dahlan Iskan. 

Soal menulis ini, sepertinya adalah kegiatan yang mulai jarang ia lakukan. Mungkin karena sibuk. 

Lha, masak web e update setahun kepungkur.

Atau karena tidak ada ghost writternya? Lha, mbok ngomong aku. Sing penting kan amplopane cocok. Wakakaka. 

Uweslah. Sebenarnya masih ada, tapi ya saya ini siapa. Kok yo wani-wanine ngomong ‘hal-hal yang sebaiknya dilakukan.’ Dan juga kalau kebanyakan nanti kuatir ada yang komen, “Cangkeman kowe, Kel..” 

Wakakaka. 

diambil dari status fb: Mekel Puspito

Share this: