HomeEsai & OpiniIjtihad GARBI : Ekonomi dan Pendidikan

Ijtihad GARBI : Ekonomi dan Pendidikan

Esai & Opini 0

Share this:

Teringat akan buku Cak Nun yang berjudul “Gelandangan di Negeri Sendiri” membuat saya berfikir ulang, kemana GARBI akan melangkah dan bagaimana pula cara mewujudkan kekuatan 5 besar dunia itu ?

Ya, didalam buku itu menceritakan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia seperti pembantu dirumah sendiri. Rumah yang mewah ini hanya dinikmati oleh segelintir orang sementara kita pemilik rumah ini hanya menjadi pembantu.

Rakyat hanyalah sekelompok manusia yang dibutuhkan ketika menjelang pemilu saja, setelah itu mereka hanyalah korban para pengumbar janji-janji manis..

Atau kalau kita lihat bersama film “Sexy Killer” menggambarkan bahwa pembangunan di Indonesia yang sesungguhnya bukan kepada rakyat melainkan kepada pemilik kepentingan. Pada akhirnya wong ciliklah yang menjadi tumbal disetiap pembangunan.  

Sudjiwo Tedjo ketika didalam forum ILC, bangsa kita ini pada dasarnya sama saja, baik itu rakyat biasa maupun pemerintah. Ketika menjelang pemilu para pengemis suara menghalalkan segala cara sementara pemberi suara juga mau ketika ada serangan fajar datang.

Kondisi diatas sedikit memberi gambaran bahwa pertama, masyarakat kita secara ekonomi masih rendah kedua pendidikan yang rendah dan yang ketiga masyarakat sudah tidak percaya dengan janji-janji manis dan berfikir pragmatis. Sampai ada istilah “yang memberi amplop belum tentu terpilih apalagi yang tidak memberi, tidak akan terpilih”.

Ilmu merupakan kebutuhan mendasar bagi seorang manusia. Baik buruknya seseorang ditentukan seberapa banyak ilmu yang ia miliki. Orang bisa banyak beramal juga karena ilmu.

Begitu juga dengan sebuah bangsa,  harus mampu menghargai sebuah ilmu jika ingin bangsanya maju. Budaya belajar bangsa kita masih sangat rendah.

Mulai dari tataran elit sampai tataran masyarakat paling bawah. Tataran elit tidak mampu untuk menghargai para ilmuwan yang ahli di bidangnya. Para elit hanya sibuk melindungi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sehingga budaya ilmu atau menghargai orang-orang berilmu menjadi terpinggirkan. Pun ketika melihat realitas masyarakat kelas bawah. Budaya untuk mencari ilmu sangatlah rendah. Pendidikan dianggap kebutuhan yang kesekian kali dan tidak dianggap penting.

Selain itu memang biaya pendidikan yang tidak terjangkau karena kondisi ekonomi yang tidak mampu menjangkau biaya pendidikan. Gerakan GARBI harus mampu menjangkau di sector ini. Gerak GARBI harus mampu menjangkau sampai ke akar rumput tatanan masyarakat.

Gerak GARBI harus mampu mencerdaskan kehidupan seluruh lapisan masyarakat bukan lapisan elite sehingga GARBI hadir memberikan manfaat yang riil bagi masyarakat. Sering sering main ke desa desa lah jangan di café melulu, hehe.  

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia mayoritas juga berada di kalangan menengah ke bawah. Akibatnya suara suara masyarakat mudah dibeli oleh para elit menjelang pemilu.

Sedikit menyinggung bahasan sebelumnya, pendidikan di Indonesia sejatinya bukan mencetak para ilmuwan melainkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan industri Mindset yang tertanam pada mayoritas masyarakat Indonesia adalah semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah pula kehidupan nya.

Kader GARBI atau gerakan GARBI ini harus menembus persoalan mendasar ini. Masyarakat itu butuh hidupnya sejahtera bukan butuh janji-janji manis para elitis. Wajar saja jika ada yang bilang “ hidup saya ya gini-gini aja, mau pemilu 50 kali pun hidup saya gak akan berubah”.

Artinya negara belum mampu hadir memberikan solusi konkrit di tengah-tengah masyarakat. Lapangan pekerjaan, harga bahan pokok yang murah akses pendidikan yang murah saya kira ini menjadi isu yang paling utama untuk digarap oleh gerakan GARBI.

Begitulah kira-kira saya mendeskripsikan persoalan yang mendasar bangsa Indonesia saat ini. Persoalan pendidikan yang rendah serta kondisi ekonomi masyarakat yang sangat rendah pula. Kekuatan lima besar dunia harus menjadi semangat bersama oleh seluruh warga negara Indonesia.

INDEKS yang akan diusung saya kira sudah cukup baik untuk menjadikan tujuan kita bersama. Sebuah negara yang memiliki 5 besar kekuatan dunia dengan nilai religius sebagai dasar bernegara demokrasi sebagai bentuk negaranya yang memiliki jiwa nasionalisme setiap warga negara dengan kondisi ekonomi yang sejahtera.

Bismillah, ini adalah ijtihad baru semangat baru sekelompok orang semoga bisa membius keseluruh masyarakat Indonesia. Wallahualam.  

Share this: