HomeEsai & OpiniINDEK Arah Baru: Sebuah Sumbangsih Ide

INDEK Arah Baru: Sebuah Sumbangsih Ide

Esai & Opini 0

Share this:

Sebut saja ini platform ; INDEK akronim populernya. Islam, Nasionalisme,  Demokrasi, dan Kesejahteraan. Sejujurnya, mengingat saya bukan ring satu, apalagi elit mumpuni, penjelasan dari pencetus platform itu belum diketahui. Lalu bila platform saja tidak tahu, bagaimana bisa tertarik bergabung di komunitas yang menggemakan INDEK? Sekadar pesona pencetus? 

Saya bergabung bukan karena tawaran platform yang, sejujurnya, berasa aneh dan ganjil. Entitas di akronim itu tidak paralel. Islam dan Nasionalisme seakan terpisah. Belum Demokrasi. Ketiga entitas ini isme atau sistem berpikir?  

Bukankah ada irisan ketiganya, dan buat apa dikamarkan seolah perlu tandas merangkul ketiganya?  

Bila Islam dan Nasionalisme dianggap input, maka Demokrasi adalah proses yang diterima dari sistem untuk mewujudkan narasi. Dan output dari narasi itu adalah tercapainya Kesejahteraan. Kesejahteraan yang dituju tentu selaras dengan input (Islam dan Nasionalisme). 

Begitulah kira-kira saya merasa hasrat intelektual pencetus Arah Baru Indonesia. Lho kok tidak bertanya langsung?  

Justru karena belum mendapat tafsir resmi, saya pun beranjak untuk berpikir. Toh beliau, Anis Matta, saja pernah berujar pada Quran juga satu teks yang terbuka ditafsiri, tentu dengan peranti memadai dan mumpuni pada sang (calon) penafsir. Nah,  apatah lagi sekadar urusan dunia berupa ijtihad menyusun platform gerakan keumatan. 

Alih-alih menerima perkiraan yang, sayangnya, hasil meraba,  saya beranjak memilih jalur praktis bagi kebutuhan mendesak di komunitas Arah Baru. Yakni ketika platform itu mudah diterima, dipahami,  direnungkan,  dan diamalkan ketimbang hanya kata-kata indah tapi sepi pemaknaan. Seberapa menyentuh ke jiwa dari pemahaman INDEK sebagaimana akronim resmi? 

Hemat saya, INDEK dalam cetusan yang populer ini lebih produktif bila diarahkan kepada watak dasar yang menjadi ciri khas komunitas tersebut.  

Sehingga, jelas dari lisan dan tindakan mana bagian dari Arah Baru dan mana yang jejak masa silam. Dengan internalisasi nilai-nilai dalam keislaman, keindonesiaan (Nasionalisme), demokrasi, dan objektif dituju dari masyarakat sejahtera itu bagaimana, disertai kefahaman pada kondisi riil di tengah bangsa ini, INDEK seyogianya satu model manusia “berbeda”  dari habitus dan kaum intelegensia berbasis harakah. 

Pada titik itulah INDEK akan memadai bila ingin membawa Islam yang rahmah bagi semesta alam dengan mendudukkan keislaman yang sederhana dan selaras dengan pengertian di lapangan. Pemahaman atas maqashid syariah menjadikan laju harakah di Arah Baru semakin bijak dan membuka ruang berinteraksi dengan pelbagai elemen bangsa. Bukan malah temaram pada satu sayap. Pun tidak menjadikan diksi dan diktum pertengahan sebagai legitimasi politik belaka. 

Itulah pertengahan Arah Baru yang mengindonesia secara tulus, sungguh-sungguh dan profesional. Ikhlas, ihsan, dan itqan,  dalam bahasa gerakan. Dan INDEK yang harus mewatak itu tidak lain INklusif, Dialogis,  Egaliter, meraKyat. 

Inklusif bermakna input bernama Islam, Nasionalisme ataupun Demokrasi selalu ada aras moderasi, pertengahan,  tidak konservatif dan fanatik pada satu kutub atau sayap politik. Radikal dalam pengertian inklusif  adalah kesetiaan dan loyalitas penuh pada ketiga input ini secara pertengahan. 

Radikal pada inklusivitas adalah menjaga hakikat kewajaran Islam, Nasionalisme dan Demokrasi. Bukan pelebihan jargon dan orientasi yang penuh bangga belaka. Inklusif mensyaratkan kecerdasan meletakkan tafsiran teks dan konteks pada ketiga input. Tidak terjebak pada pengunggulan teks, juga bukan pula yang membanggakan konteks. Inklusif di sini berarti satu mekanisme membaca arus zaman, keperluan publik, dan prasyarat maqashidi yang ditoleransikan. Mana yang wasail dan ahdaf,  mana yang tsawabit dan mutaghayyirat ditimbang sungguh-sungguh (ikhlas, ihsan, itqan).

Kerja-kerja tersebut tentu memerlukan ruang luas berdialog. Ada dialektika dan adu hujah yang tidak boleh disekat. Ruang bertanya terbuka luas sebagaimana ruang mendebat atau mencela. Dialogis adalah ruang menautkan ukhuwah yang selama ini diisi lebih pada tuntutan untuk taat dan loyal begitu saja. Di sisi inilah, dialogis mensyaratkan hadirnya budaya ilmu dan kultur egaliter yang dipercaya. 

Mengapa harus ada egaliter? 

Ruang egaliter semestinya hal biasa dalam arus gerakan Islam. Setelah dialog membudaya, hierarki yang ada dalam struktur sosial masyarakat Islam mestinya ditempatkan secara benar. Ruang yang boleh dan harus ada perdebatan dan diskusi hangat, biarkan dibuka dan jangan dibatasi dengan alasan adab dan kesopanan.  

Atas nama adab maka kekritisan tidak diperkenankan hadir, walau di lisan amat hendak dirasakan harus sebaliknya yang berlaku. Hierarki mana yang berkaitan dengan kesopanan, ini tak perlu diperbincang. Wajar bila ada hierarki guru dan murid; pengurus dan anggota; orangtua dan anak; semua ini niscaya dalam keseharian kita. Dalam hubungan ini, adab berkaitan dengan artikulasi akhlak dan pantulan tauhid dalam memperlakukan sesama insan, baik beriman ataupun luar Islam. 

Adab tak berkaitan dengan batasan buat berbicara dan kritikan keras. Bukankah egaliter sejatinya hal jamak dalam bentangan masa Nabi dan para Sahabat? 

Para Shahabat tetap bersuara, urun rembuk, tanpa mesti takut Rasulullah melarang dengan alasan tidak sopan. Sebaliknya, para Shahabat justru berlomba buat andil saran dan kritikan. 

Begitu pula yang terjadi pada era empat Khalifah pelanjut Baginda Nabi Muhammad. Dengan demikian, kultur feodal dan anti-kritik pada harakah dakwah mestinya tinggal puing peradaban lampau ketika silap mendera langkah sebagian kita. 

Adapun merakyat bermakna orientasi pergerakan kita dimaksudkan untuk memenuhi hajat-hajat dasar publik. Agama, nyawa, akal, keturunan, dan harta benda. Merakyat bukan tentang gaya hidup. 

Merakyat adalah satu pandangan untuk mengabdi pada rakyat. Ia menghayati bagaimana elan vital berislam, berbangsa dan berdemokrasi itu mengarah pada ihwal rakyat atau publik atau umat. 

Jadi, domain yang dituju bukan lagi basis kelompok ataupun satu sayap belaka. Termasuk bukan semata-mata menyasar kebahagiaan golongan Islamis belaka. Tidak demikian. Bahagia itu milik segenap rakyat. Itulah kerakyatan yang sejahteranya terukur dengan tiga input. Bukan sejahtera yang asal bahagia dan halalkan segala cara. 

Merakyat dalam hal ini watak yang niscaya hadir agar kesadaran menaungi rahmat bagi semua pihak benar-benar riil mendarah daging. Kacamata kesejahteraan (juga keadilan hukum) dilihat dengan memandang seberapa luas area terlingkupi publik mendapatkan praktik objektivikasi nilai gerakan kita. Bukan sesempit kelompok kita saja. 

Dengan begitu, merakyat bukan sebuah watak yang hendak mengabaikan isu populisme,  tampilan membumi, ataupun plain folk lainnya. Merakyat, sekali lagi, merupakan watak untuk membela dan memandang semua kalangan harus diupayakan hak-hak dasarnya. 

Inilah satu pemikiran bersahaja saya bagaimana Arah Baru mengadopsi maqashid syariah demi menancapkan nilai-nilai keislaman di Indonesia. Berangkat dari nilai atau watak ini sebagai satu ciri gerakan pos-islamisme yang tulen (bukan klaim), ada titik hubungan emosi dan narasi dengan gagasan Anis Matta. Inilah persuaan di tengah jalan dari keberangkatan berbeda. Dan saya tidak tertarik dengan INDEK yang dipopulerkan anak didik dan pendaras kajian beliau. 

Sementara INDEK beliau saya raba lebih ke tahap input-proses-output, INDEK yang lebih prioritas di benak saya justru menghadirkan sikap mental yang mampu membedakan mana al-akh Arah Baru dan mana yang sekadar ganti baju; apalagi ikhwah jalan lama di rumah lawas. []

*) Ide awal INDEK dengan nilai di atas, kali pertama saya peroleh kala bercakap dengan audiens setia MISKAT, Saudara Dimas; sosok yang tekun dan telaten membaca hasil syarahan MISKAT.

Share this: