HomeEsai & OpiniIstanbul – Teheran

Istanbul – Teheran

Esai & Opini 0

Share this:

“Turki (Utsmani) berada di tengah-tengah, Eropa di sisi Barat, Safawi di Timur. 21 kali kami menyerang Eropa, 20 kali pula saat yang sama dari Timur datang serangan kerajaan Safawi pada kami. Semacam ada pakta di antara keduanya. Andai tidak ada serangan dari Safawi, Eropa sudah habis kami bebaskan. Setiap kami menyerang Eropa, mereka (Safawi) dari belakang menyerang kami. Dan ini banyak menewaskan pasukan kami. Ini pengalaman kami.

Maka, untuk menaklukkan Barat, kita harus meredam serangan dari Timur dulu dengan mengadakan hubungan bersama Iran. Jadi, ini bukan lagi soal mereka Syiah atau bukan. Ini real politic, jangan kuliah kami, dan inilah high politic kami.”

Demikian dikatakan ring-1 penasihat Presiden Turki sebagaimana disampaikan kepada sahabat patik di negeri jiran yang beberapa kali bersua langsung Recep Tayyip Erdoğan.

Kesadaran geopolitik hari ini memang mutlak bagi gerakan Islam, agar tidak berulang cara pandang “ideologis” yang kaku dan bergegas menilai. Bahwa dalam politik yang cair bersama sekutu, proksi, harus ada permainan pikiran yang bertopang pada data. Data hari ini dan data rekam jejak masa lalu. Dari sini kita bisa melakukan prediksi langkah yang tepat.

Yang diperbuat Istanbul dekade ini sesungguhnya hal lumrah. Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi juga menciptakan aliansi-aliansi yang berfungsi melapangkan jalan untuk mengusir pasukan Salib di al-Quds.

Jadi, bukan dengan bombardir langsung dengan melewatkan Syam dan Kairo. Dua negeri ini, yang kini jadi Suriah dan Mesir modern, sayap dari burung yang mutlak dikuasai sebelum merangsek ke al-Quds. Itu sebab, banyak kekuatan adidaya tak ingin kedua negeri itu diperintah oleh penguasa adil yang ramah pada gerakan Islamis anti-zionis.

Bila dua sayap digenggam, berikutnya tinggal tunggu waktu merundukkan kepalanya: al-Quds. Sebagamana Shalahuddin memuncaki perebutan jantung al-Quds pada 4 Juli 1187.

Karena itu, urusan mengendalikan Teheran hari ini terkoneksi dengan soal negeri-negeri tersebut. Dan eks tanah para kisra itu memang tumbuh subur dengan tradisi berpikir yang baik. Kita harus akui itu meski tak berarti ini mendukung sistem berpikir puak syiah di sana.

Tapi, bilakah kita mau mengatasi mereka kalau tradisi berpikir di tengah kita masih payah, bahkan untuk sekadar telaten membaca informasi? Semua fakta politik sering kita simpulkan dengan apa yang tampak lahir. Mengabaikan bahwa di balik itu ada kerumitan yang harus menenggang sangkaan baik. []

Share this: