HomeEsai & OpiniKemenangan yang Mengkoneksi

Kemenangan yang Mengkoneksi

Esai & Opini 0

Share this:

Sembilan tahun lamanya Bizantium, Romawi Timur, menderita kekalahan dalam peperangan dengan Persia. Kekalahan demi kekalahan itu seolah takdir bagi sang Kaisar dan para panglimanya. Pun bagi bangsa Arab di Yatsrib: Bizantium mustahil buat memenangi perang dengan Persia. Tapi tidak bagi Abu Bakar, yang memilih mantap suara minoritas. Hanya bermodalkan kesamaan sebagai bangsa-bangsa penerima Kitabullah. Kedekatan yang subjektif membuat Abu Bakar mantap bertaruh tekad: Bizantium menang!

Bangsa Arab musyrik memfavoriti Persia. Karena kesamaan akidah pagan. Muslimin sebaliknya: mendamba Bizantium mampu membalikkan arus sejarah. Tidak semata soal kedekatan sebagai penerima Kitabullah. Menangnya Bizantium modal moril amat berharga bagi Muslimin di tengah siasat dan serangan yang dilancarkan kafir Quraisy Mekah.

Pada situasi itulah wahyu sarat isyarat telah lama turun: surat ar-Ruum. Surat yang mengisahkan   informasi kemenangan bangsa Romawi setelah diawali kekalahan demi kekalahan. Satu informasi yang hasil akhirnya bercanggahan dengan kenyataan yang berlangsung. 

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah, Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Mahaperkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

…Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi…. Bagi Muslimin seperti Abu Bakar, tiada keraguan untuk mengimani kandungan ayat ini. Betapapun absurd lagi mustahil dengan kenyataan di lapangan. Bilakah Romawi menang dalam beberapa tahun lagi?

Sebelum menyaksikan mana yang menang antara Persia dan Bizantium, dua belah pihak yang saling menjagokan imperium besar ini rupanya harus bersua lebih awal. Quraisy Mekah kali pertama harus bersua dengan pasukan Muslimin. Dua bangsa yang sama, bahkan di antaranya ada dua anggota keluarga yang saling berhadapan. Saling bersiap menerjang mengenyahkan satu sama lain karena beda iman. Kendatipun dua kekuatan itu tidak berimbang. Bila ukurannya analisis militer umum, umat Islam tinggal menghitung hari untuk lenyap. Sebanyak 314 Muslimin bertanding dengan 950 saudara sebangsanya yang musyrik. Belum perbandingan senjata dan logistik perang, amat beda. Absurd saja bila ada yang bilang pasukan Muhammad bakal memenangi peperangan.

Maka, rasional dan manusiawi belaka bila sang Nabi berujar. Penuh harap diseliai gelisah. “Ya Allah, jika kelompok mukmin ini hancur, Engkau tidak disembah lagi di muka bumi ini!” Satu damba yang menyiratkan pula tantangan: sampai sebatas inikah risalah Ilahi eksis dan berakhir?  

Di lain pihak, pertempuran di medan Badar punya makna penting bagi Quraisy. Inilah kontak fisik pertama dan sekaligus dicitakan sebagai pamungkas mengakhiri gerakan yang dibawa Nabi Muhammad. Abu Jahal sudah berambisi tegas: pasukan dari Yatsrib, Muslimin, harus dikalahkan! Sebuah langkah agar bangsa Quraisy Mekah mencapai kejayaan sebagai penguasa Arab tak tertandingi. 

Namun, di medan Badar, Yaumul Furqan, Muslimin secara mengejutkan mampu memenangi peperangan. Telak dan begitu meruntuhkan para pemuka Quraisy. Abu Jahal tersungkur oleh pedang dua orang bersahaja yang bahkan tidak mengenal siapa dirinya. Sebentuk penghinaan atas ambisi besarnya di tanah Arab. Satu absurd, kemustahilan Muslimin memang, berhasil dibalikkan. Islam masih tegak di atas kepongahan Abu Jahal dan pasukannya. Tak lama kemudian, tersiar kabar bahwa nun di medan tarung dua imperium, Bizantiumlah yang tampil perkasa. Satu berita yang melegakan dan—meminjam kata-kata Syeikh Munir Muhammad al-Ghadban—“datang sebagai pelengkap dan bonus bagi kemenangan Perang Badar”. Absurd kedua pun terurai; tiada mustahil dengan tumbangnya Persia; semustahil apa pun.

Ada kalanya para pemenang peradaban Ilahi memang disiapkan. Secara sederhana saja mereka berpikir dan bertindak. Semua dikerjakan dengan lakon-lakon insani, betapapun mereka di bawah bimbingan Ilahi Rabbi. Mereka berkreasi tanpa harus paham arah dan isyarat Penguasa Bumi dan Langit sebenarnya sudah memfirmankan. Begitulah yang terjadi dengan Nabi Muhammad dan pasukan Muslimin di medan Badar. Mereka begitu serius menyiapkan takdir yang tidak bisa dihindarkan. Menghadapi saudara-saudara mereka dari Mekah. Yang bahkan Nabi kita pun harus berdoa amat sangat khusyuk. Agar umat baru ini jangan lekas habis.

Padahal, surat ar-Ruum, terutama ayat 1-7 di atas, telah sekian tahun turun dan dibaca mereka. Bahwa mereka dituntun soal kabar menangnya Romawi Timur, itu sudah jadi keimanan. Meski harus berhadapan dengan cemoohan kafir musyrik Mekah kala ayat-ayat itu diwahyukan. Karena narasinya memang bertolak belakang dengan kenyataan: unggulnya Persia. Soal ini saja Muslimin tunduk percaya pada firman-Nya. Tak peduli dengan fakta-fakta di depan mata. Satu kesabaran bahkan hampir sedekade lamannya menanti Persia tumbang.

Menariknya, Nabi dan Muslimin pun tidak serta-merta membaca ayat-ayat setelah kabar kemenangan Romawi Timur itu sebagai isyarat kemenangan agama ini. Kemenangan Romawi disampaikan-Nya secara tersurat. Kasatmata dan jelas. Tapi ayat-ayat selanjutnya baru belakangan dipahami maknanya. 

Karena pertolongan Allah, Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Mahaperkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. 

Setelah dua rentetan kejadian berlangsung, Muslimin tersadar bahwasanya pertolongan Allah yang dimaksudkan dalam ayat 5-6 surat ar-Ruum tidak lain untuk mereka sendiri. Kemenangan untuk peradaban lain, Romawi Timur, diberitakan jelas. Dan Muslimin pun memantau perkembangan. Sebaliknya, kemenangan untuk diri Muslimin sendiri, tidak disampaikan. Baik hasilnya (menang ataukah kalah), apalagi masa waktunya. Hingga sang Nabi pun bermunajat sangat. Sejatinya, informasi itu telah ada, termaktub jelas di Quran. Inilah pelajaran berharga buat kita.

Kemenangan pihak lain, sebesar apa pun dukungan simpati kita, batas maksimal kita hanyalah berdoa. Doa agar eksistensi kita tak dirusak akibat kekalahan pihak yang berdekatan dengan ideologi kita. Namun, untuk kemenangan kita, kerja pertama adalah bukan mencari-cari isyarat kedudukan akhir kita—memang ataukah kalah. Kita hanya diperintahkan bertempur habis-habisan semaksimal kapasitas. Fokus pada ridha Allah dan bersungguh-sungguh ditampilkan oleh Nabi kita dibandingkan menanti realisasi janji-Nya di medan juang (sebagaimana dalam soal kemenangan Romawi Timur). Isyarat Allah bersama kita barulah terungkap seusai kemenangan. Bahwa Dia tidak meninggalkan Nabi dan hamba-hamba-Nya yang tunduk ikhlas menyembah di pagi, sore, malam hari.        

Dalam Manhaj Haraki, Syeikh Munir Muhammad al-Ghadban menuliskan bahwa “Belum sempat terbetik dalam benak puluhan kaum mukminin …ketika ayat-ayat itu turun di Mekah bahwa merekalah yang dikehendaki oleh kemenangan itu dan mereka pula pelaku sejarah itu. Bahwa Romawi dan Persia hanyalah menempati pojok sejarah setelah Allah menurunkan para malaikat-Nya untuk menolong kaum Muslimin di Perang Badar.”    

Dua peperangan ditakdirkan dalam waktu hampir bersamaan. Romawi versus Persia; Muslimin sonder Quraisy musyrik. Dampak medan Badar teramat kecil bila dikaitkan dengan soal jihad hawa nafsu. “Kelalaian” Muslimin untuk memaknai isyarat di surat Ruum, dan memilih fokus berjuang menegakkan agama ini saja sudah menunjukkan bahwa sangat tidak relevan mengontraskan jihad pedang dengan jihad menahan hawa nafsu. Bukankah di medan peperangan tiap prajurit Islam tidak terbebas dari kaidah-kaidah syariah sehingga tidak begitu saja memuaskan hasrat-hasrat pribadi? 

Pelajaran penting berikutnya buat kita sekarang adalah “kelalaian” kedua Muslimin. Sungguh pun baru belakangan tersadar bahwa ayat kemenangan di surat Ruum itu bagi Muslimin, mereka tidak menghubungkaan dengan situasi global. Satu situasi dunia masa itu yang menempatkan perseteruan Romawi dan Persia. Dua imperium besar yang mengendalikan dunia waktu itu dengan Muslimin hanya sebagai kekuatan kerdil dan belum diperhitungkan. Menariknya, seperti dituliskan Syeikh al-Ghadban tadi, Muslimin belum terbetik untuk menarik korelasi kemenangan di Badar dengan peran penting dalam lanskap peradaban dunia. 

Di tengah Nabi masih bugar, di saat wahyu masih turun, dan janji Allah masih terasakan langsung, toh Muslimin tidak dihadiahi dengan berita-berita memanjakan. Tidak menurunkan kabar berita yang membuat Muslimin hanya perlu menanti janji Allah terwujudkan. Bukan, bukan seperti ini umat ini ditahbiskan dalam posisi terbaik tapi cara mentalnya serupa umat Nabi Musa. Nah, apatah lagi pada kurun generasi kita saat ini? Isyarat kemenangan bisa saja kita gali detail dan mendalam dari Quran, juga hadits. Tapi, ini tak boleh menghentikan ikhtiar berjuang. Atau menunda berjuang sampai ditemukan pembacaan akurat dan komprehensif dari telaah isyarat kemenangan di ayat dan hadits. 

Tampaknya, generasi pertama yang amat sangat mulia itu ditakdirkan “lalai”, tapi sejatinya untuk jadi ibrah dan tarbiyah buat generasi kemudian. Terutama kita-kita ini yang lebih suka menanti janji kemenangan tapi enggan berikhtiar di medan pertempuran peradaban.

Dalam pelajaran kedua, Muslimin “lalai” mengaitkan kemenangan penting di Badar dengan situasi global. Padahal, kemenangan di tahun 2 Hijriah itu akan membuka mata banyak penduduk dunia kala itu. Dua imperium besar akhirnya dirongrong bahkan ditundukkan Muslimin. Kekuatan global superpower masa itu secara mengejutkan dikalahkan kekuatan underdog yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan eksistensinya. Di titik inilah kita mesti berhenti untuk berpikir mencari hikmah besar. Kendati seperti bertindak mengalir begitu saja dan “melalaikan” untuk mengukur diri dengan kekuatan global, Muslimin senyatanya aktif membuat serangkaian yang akhirnya memojokkan dua imperium tersebut. Tugas kita sekarang dalam meneladani jejak sirah adalah menguraikan “pelalaian” yang dilakukan Nabi dan para sahabat. Satu pekerjaan yang oleh mereka berhasil dituntaskan secara gemilang, dan menyisakan tugas bagi kita sebagai penyambung sejarah.

Sesungguhnya Perang Badar dan kemenangannya adalah pelajaran tentang seruan berpikir dan bertindak global. Ini apabila kita masih teguh meyakini bahwa Islamlah yang harus memainkan lakon ustadziyatul ‘alam. Satu kepercayaan diri kita karena memang kokoh dan mantapnya konstruksi doktrin dan praktik sejarah dibandingkan keyakinan maupun peradaban lain. Kemenangan di medan Badar mengajak kita untuk meluaskan cakrawala pemikiran ke konteks lebih luas. Ini agar kita selalu tidak berpuas dan berbangga diri atas capaian yang direngkuh. Mudah bangga dengan kemenangan hanya akan menjadikan kita berpikir kerdil. Sebab, konteks kemenangan itu sebenarnya amat lokal tapi seolah memenangi pertempuran global. Toh kemenangan global pun tidak serta-merta harus dimaknai sebagai ketuntasan kemenangan abadi di dunia. Ini bila kita meyakini bahwa kejayaan itu dipergilirkan oleh-Nya.

Yang diperlukan saban kita meraih kemenangan “kecil” adalah koneksi kemenangan ke konteks luas. Ada inter-koneksi yang tidak mengisolasi capaian kita. Dari sinilah kita menapaki perjuangan dengan raihan yang ada. Muslimin generasi pertama bisa saja dianggap “lalai” di awal ketika tidak mengkoneksikan kemenangan di Badar dengan kesiagaan untuk menundukkan imperium global. Tapi, jangan lupa, mereka tersadar untuk memainkan peran ustadziyatul ‘alam dengan melakukan futuhat demi futuhat di kawasan dua imperium. Hanya perlu 10 tahun, yakni pada 12 Hijriah, di era Khalifah Umar, Muslimin merangsek masuk dan menguasai beberapa kawasan Bizantium. Perang Yarmuk penanda awal. Untuk Persia, persuaan di Qadisiyyah berlangsung pada 15 Hijriah dan dituntaskan dengan kemenangan besar dua tahun kemudian; ini artinya: 15 tahun atau nyaris dua windu selepas kemenangan Badar. 

Dengan demikian, dalam kesahajaan dan “kelalaian” para generasi pertama Islam dalam memaknai tetanda penting di medan Badar dan warta kemenangan Romawi Timur, kita bisa membacanya bahwa secara tidak langsung mereka mengajari kita untuk senantiasa berfokus pada kemenangan kita dan bukan pada berita demi berita—bahkan sekalipun itu menguntungkan karena dituliskan di Quran. Berikutnya, lakukan inter-koneksi kemenangan kita dengan konteks peperangan global. Akan selalu ada kaitan, lambat maupun cepat, raihan kita dengan situasi zaman yang dibentuk kekuatan global yang berkuasa.

Kita harus gesit, plus percaya diri, untuk menghubungkan capaian kita untuk kemenangan lebih besar dan penting. Mengkoneksikan raihan kita untuk mengukur seberapa siap kita memimpin dunia dengan jangkauan lebih jauh dan meluas. Bukan setelah kemenangan yang ada, dan sekadar lokal, kita hanya pintar mengkonsesi pada kekuatan besar. Yakni hanya pintar mencari rente jangka pendek lantas berpuas dengan kedudukan yang ada. Sebatas itu capaian kita, tak peduli impian besar kita.    []

Share this: