HomeEsai & OpiniKepedihan & Kemarahan Atas Meninggalnya Mursi

Kepedihan & Kemarahan Atas Meninggalnya Mursi

Esai & Opini 0

Share this:

Tadi malam saya dan keluarga besar memperingati seribu hari meninggalnya Simbok. Atau nenek kami. Untuk menyelenggarakan acara ini, kami mengundang seluruh keluarga besar dan juga para tetangga. Kami meminta bantuan mereka untuk berdoa bersama-sama. Mendoakan Simbok dan juga kerabat kami yang telah di alam kubur.

Saat ditinggal orang tercinta pertama kali yang ada adalah kesedihan. Setelah itu baru mulai muncul penyesalan dan kemarahan.

Sedih saat mendengar berita kematian. Lalu menyesal, setelahnya, karena mungkin ada berbagai keputusan yang terlambat diambil. Menyesal mengapa tidak dari dulu berobat. Menyesal juga atas beberapa janji yang belum terlunaskan.

Kemudian kita marah. Kita marah karena ketidakberdayaan. 

Pagi tadi saat saya membuka media sosial lewat hape, sudah ramai dengan berita kematian. Kali ini bukan keluarga saya, tapi kematian salah satu presiden di negeri tempat asal Mo Salah.

Kita mengenal Mohamed Mursi sebagai presiden sipil pertama di Mesir. Setelah gerakan rakyat berhasil menumbangkan Presiden Hosni Mubarak pada Februari 2011. Lewat pemilihan langsung yang demokratis, pada bulan Juni 2012 Mursi terpilih dengan raihan suara 51,7 persen.

Tapi periode pemerintahannya ternyata tak berjalan mulus.

Pada tanggal 3 Juli 2013, Mursi digulingkan dengan paksa oleh angkatan bersenjata Mesir yang di pimpin oleh Panglima Militer Abdel Fattah al-Sisi, yang ironisnya diangkat oleh Mursi sendiri.

Mursi kemudian ditangkap dan dipenjara serta menghadapi berbagai macam tuduhan. Total ia mendapatkan vonis 45 tahun penjara dengan tuduhan melakukan spionase terhadap Qatar dan menghasut kekerasan terhadap demonstran. Selain itu, ia juga mesti menghadapi pengadilan dengan ancaman vonis hukuman mati dan penjara seumur hidup. 

Mursi bukannya tanpa pembelaan. Setidaknya menurut laporan media, ada sekitar 1400 orang yang pro-Mursi tewas dalam berbagai aksi demonstrasi menentang kudeta dan ratusan lainnya dihukum mati. 

Selain itu, ia juga mendapatkan dukungan dari negara tetangga. Terutama dari Turki, lewat Presiden Erdogan. 

Kini Mursi telah tiada. 

Dan banyak berseliweran di lini masa media sosial tentang keprihatinan padanya, doa-doa padanya agar ditempatkan bersama para syuhada, dan tak lupa kemarahan pada rezim diktator yang diyakini telah bertindak kelewat zalim pada Mursi.

Mursi tak sekadar satu tokoh saja, tapi ia, bersama Ikhwanul Muslimin, adalah inspirasi gerakan islam yang pengaruhnya tersebar ke seluruh dunia. Maka, amat wajar bila wafatnya Mursi tak cuma menimbulkan kesedihan, tapi juga penyesalan. Dan kemarahan.

Kita barangkali menyesali keputusan politik yang Mursi ambil. Misalnya saja, kita menyesal atas pilihannya mengangkat As-Sisi. Kita juga menyesal mengapa pemerintahan Mursi tak cukup kuat untuk mengatasi krisis ekonomi pasca-revolusi.

Dengan membaca berbagai macam artikel di media, berdiskusi dengan banyak orang tentang jatuhnya Mursi, dan menyayangkan berbagai hal yang terjadi. Dengan kacamata pengamat amatiran, mungkin banyak yang menilai ada beberapa keputusan politik yang salah langkah. Namun saya juga mesti sadar, bahwa saya hidup ribuan kilometer jauhnya dari Mesir.

Saya mencoba membayangkan menjadi seorang Mursi, menghadapi berbagai pilihan yang sulit dan ditengah ancaman ‘todongan senjata.’ Tapi tetap saja imajinasi saya tidak sampai. 

Saya juga marah. Marah atas ketidakberdayaan. Bagaimana mungkin, gerakan islam tidak mampu menolong “The Most Important Man in Middle East” dalam menghadapi kudeta itu. 

Bagaimana mungkin gerakan islam di berbagai belahan dunia tidak mampu menekan sebuah negara yang melakukan kudeta atas presiden yang terpilih secara demokratis?

Minimalnya, sangat minimalnya, seperti kata sebuah tulisan yang saya baca, gerakan islam tak mampu untuk sekedar menekan pemerintahan junta militer untuk paling tidak memberikan fasilitas bantuan kesehatan yang cukup kepada Mursi. Agar paling tidak ia mampu menghadapi pengadilan.

Saya sendiri merasakan itu. Kemarahan atas ketidakberdayaan. 

Share this: