HomeEsai & OpiniLegasi al-Banna

Legasi al-Banna

Esai & Opini 0

Share this:

Senyampang beberapa pemuka umat masih kerap menakut-nakuti publik akan bahaya Ikhwanul Muslimun, selalu ada para sosok yang menjelaskan jujur apa hakikat sebenarnya dari organisasi bentukan Hasan al-Banna ini.

Bahwa Ikhwan sebagai gerakan terlarang dan mengerikan, seperti absah berlaku kapan pun. Ini tentu saja pernyataan yang mesti diklarifikasi kebenarannya. Ikhwan lewat oknum tertentu berbuat kekerasan tidaklah bermakna ini wakili wajah gerakan. Maka, akan lebih adil bila amatan menakutkan diimbangi dengan perspektif simpati tanpa terjebak pada kekaguman apologetik.

Di sini uniknya. Betapa tidak. Menariknya, di mata beberapa orang justru Ikhwan dan al-Banna adalah sebalik dari tuduhan menyeramkan tadi. Anis Matta salah satunya. Terlepas ia bagian dari aktivis yang tercelup dengan pemikiran Ikhwan dan al-Banna, amatan dan masukan dia patut disimak. Bukan hal kali pertama ketika ada aktivis Islam memuji Ikhwan dan pendirinya. Jauh sebelum Anis Matta, Amien Rais, semasa menempuh pendidikan doktoral, secara langsung bahkan berinteraksi dan diuji di hadapan aktivis tulen Ikhwan di markasnya. 

Benar kata Anis Matta bahwa al-Banna memang tidak sempat menyelesaikan seluruh agenda kebangkitannya. “Tapi ia telah memulainya dengan benar, dan menyelesaikan beberapa tahapannya. Namun, kader-kadernya mengetahui apa yang harus mereka lakukan setelah kepergian al-Banna.” 

“Menurut saya,” tulis Anis Matta dalam Sabili No. 01 25 Juli 2002/14 Jumadil Awal 1423, ”inilah fenomena paling unik dari Ikhwan. Sebagian organisasi Islam mati bersama matinya para pemimpinnya. Tapi tidak bagi Ikhwan. Walaupun al-Banna adalah legenda, sebuah organisasi harus tetap dikelola dengan sistem. Ia telah merancang sistem itu. Dan sistem itu kini bekerja, bahkan setelah ia syahid.” 

Dalam naungan kebesaran pengasas gerakan, tentu saja tidak cukup hanya membawa sejarah tapi tidak disertai dengan pembacaan dan pembumian langkah. Pendekatan tradisional dalam model harakah Ikhwan di sini, sudah semestinya diperbarui. Bukan konten keislamannya itu sendiri. Model pendekatan yang inkonsisten, keras bersikap, mudah menuding, mestilah dijauhi. Corak-corak yang lebih moderat harus dipraktikkan sebagaimana keteladanan dalam riwayat al-Banna. 

Pada titik inilah, upaya untuk menuju arah baru gerakan dakwah amat tidak memadai bila hanya soal urusan kesumat dan persaingan dengan sesama al-akh di tempat berbeda. Akan tetapi, semestinya, ini tentang bagaimana kita mengubah cara memikirkan dan menjalankan dakwah. 

Di titik inilah relevan mengaktualkan pemikiran al-Banna. Baik cara hidup sederhana dan pantang menjilat ke kekuasaan, hingga watak tasamuh dan keuletan membangun basis massa dengan corak kader beragam latar. Di era keterbukaan menjadi niscaya bagi islamisme, perayaan simbol dan kebanggaan pada sisi formal beragama mestinya perlu ditinjau ulang manakala agenda kita benar dan serius ingin merengkuh banyak segmen. Watak moderat bukan berarti halalkan segala pendekatan dakwah dan berpolitik dakwah. Moderat di sini adalah bagaimana menjaga maqashidi syariah dalam gerakan dakwah. Tentu saja dengan sekian tahapan dan kelenturan yang niscaya ditempuh lantaran agama ini membolehkan, alias bukan ranah tsawabit. []

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *