Muda Aset

Esai & Opini 0

Share this:

Dari seorang sumber internal, seorang senior di KAMMI turun mengumpulkan kader-kader, baik yang masih aktif di periode kepengurusan maupun yang sudah selesai menjabat. Tidak sembarang kader yang dikumpulkan, yakni mereka yang memenuhi kualifikasi kader mumpuni, kritis, dan tangguh. 

Misinya: jangan sampai mereka bergabung dengan sebuah GARBI, ormas yang elitnya eks para petinggi partai yang sejiwa dengan KAMMI. Menarik, mengapa kader-kader kualifikasi bagus itu hendak dijaga tetap dalam manhaj dan habitus partai tersebut, melalui agenda oknum senior tersebut. 

Saya pribadi memandang positif upaya menjaga para kader mumpuni agar tetap berkiprah di partai yang acap mendaku pengusung dakwah. Sebagai satu proyeksi menghimpun para intelegensia muslim muda, upaya itu saya sangka baik demikian. Bukan sebagai ajang sekadar antisipasi jangan (lagi) kehilangan kader yang “membelot” ke GARBI. 

Hadirnya intelegensia muda di partai dakwah itu kiranya penting buat ke depan. Saya berharap senior yang alumnus tadi mendesain kader binaannya untuk menjadi pemikir dan/atau praktisi politik yang berbeda dengan apa yang berlaku di partainya. Dengan kadar kritis dan cerdas, rasanya sayang kalau potensi mereka hanya jadi penonton dan pengamat di luar. Sebagian lagi malah jadi pembenci manhaj partai itu. 

Bila kini ada kanal mewadahi mereka yang di lapangan acap dicanda “nakal” lagi “bengal”, itu bagus sebagai medan pertarungan dialektika di partai yang oleh beberapa intelektual partai mereka menahbis bagian dari pos-islamisme. 

Di sinilah strategisnya kehadiran kaum muda kritis yang biasa teriak lantang dan “bengal”  tapi diam-diam masih lebih nyaman bersama partai itu ketimbang, misalnya, GARBI yang dicemasi bakal “mengambil” mereka (padahal mereka juga sejatinya tidak sejalan dengan elit dan beberapa oknum GARBI yang dipandang pragmatis dan amat berorientasi politik praktis).

Hadirnya kaum muda di partai dakwah itu semoga jadi aset ke depan. Terutama ketika di kemudian hari orientasi partai cenderung ke kanan,  sesuai aspirasi umat Islam di luar kelompok harakah mereka. 

Menjadi sayap tengah sekaligus pembawa suara Islam wasathiyah mestinya begitu peranan mereka. Agar pendulum konservatif ada kawan pengiring yang nantinya bisa membawa partai bersikap realistis hadapi keadaan dan perubahan masa.

Seberapa jauh mereka yang direkrut bisa bertahan, itu tugas partai dalam mempertahankan aset. Jangan sekadar hanya modal pemanis di platform atau bahkan elektoral lima tahunan. Mereka sesungguhnya bisa menjado roh ke depan partai. 

Mesin partai berdasar rasio dan tradisi ilmiah. Termasuk bila berseteru dengan anasir satu manhaj yang masih tercurigai abadi semisal GARBI. 

Hadirnya mereka seyogianya bisa membawa angin segar adanya tradisi yang tak semata taat dan percaya tanpa boleh bertanya. Tidak bisa demikian mengingat mereka kader “bengal”  yang semasa di kampus dikenal cerewet dan malah seteru para al-akh kesayangan struktur jamaah dakwah

Share this: