HomeEsai & OpiniMursi: sebagai Legasi Haraki

Mursi: sebagai Legasi Haraki

Esai & Opini 0

Share this:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Akhirnya lelaki bercambang dengan wajah teduh berkacamata itu menemui Rabbnya. Penandanya di almanak: 17 Juni 2019, 7 tahun persis dari hari pemilihan umum putaran kedua yang menempatkannya sebagai Presiden Mesir. Tepat ketika banyak Muslimin menunaikan shaum Syawal dan/atau yaumul bidh, ia dinyatakan tak bernapas usai pingsan dengan baju merah dalam balutan letih sangat. Kiranya nama dan wajah Muhammed Mursi (1951-2019) akan terus dikenang oleh para keluarga pejuang kebenaran.

Wafat dalam status tahanan sungguh tak mengenakkan. Dikurung dalam kelaliman tiada kenal kemanusiaan oleh kekuasaan tiran yang pernah duduk sebagai pihak kepercayaan. Dikhianati oleh kalangan yang menahbis diri pembela kebenaran dan kebebasan. Entah yang Islamis Salafi ataupun sekularis-liberal dan komunis.

Sebenarnya ada banyak pelajaran dari perjalanan Mursi bila dikaitkan dengan kekuasaan dan hasrat manusia biasa. Semisal dalam seleksi persahabatan. Mursi sejatinya berbeda pandangan dalam urusan geopolitik kawasan (terutama negara yang masih alami Arab Spring 2011) ketika disandingkan dengan Recep Tayyip Erdoğan, sahabat Mursi yang merupakan presiden Turki.

Penting kiranya disebutkan di sini bahwa Erdoğan memberikan pernyataan belasungkawa yang diawali kritik tajam atas standar ganda Barat terhadap kudeta berdarah terhadap Mursi.

Sebagaimana dikutip dari laman Haber Vakti, Erdoğan berkata, “Pertama-tama, saya berharap belas kasihan Tuhan kepada saudara dan martir Mursi kita. Jenderal as-Sisi saat ini, yang mengambil kekuasaan almarhum Mursi, yang menjadi Presiden Mesir dengan suara demokratis 52 persen, mengakhiri demokrasi. .. mengeksekusi hampir 50 orang Mesir.”

Sayangnya, kata Erdoğan, “Barat selalu diam terhadap eksekusi Sisi ini.” Sementara negara-negara anggota Uni Eropa yang melarang keras eksekusi mati, sayangnya di kasus Mesir ini, mereka ini justru menghadiri pertemuan di Mesir sebagai tanggapan atas undangan Sisi.

“Itu kemunafikan!” dakwa Erdoğan. “Anda akan melarang kematian di satu sisi, (semisal) Anda akan ingin pelaksanaan penghapusan dari Turki… tetapi, di sisi yang lain, Mesir menerapkan eksekusi mati ini, … Uni Eropa tidak mungkin untuk memahami dan menjelaskan partisipasi negara-negara tanpa apa-apa.”

Sayangnya, menyitir kata-kata Erdoğan, proses tersebut memakan waktu sekitar 6 tahun.

“Saudara laki-laki kami, Mursi, telah dipenjara selama 6 tahun dan dihukum di sana bersama ribuan teman. Dan hari ini, saya mengesampingkan keraguan, dia menjadi martir dengan menjadi perintah. Saya berharap bahwa Tuhanku akan bersamamu, Habibi sayang.”

“Doa kami ada bersamanya. Belasungkawa untuk semua saudara lelaki saya yang berjalan di jalan yang sama. Belasungkawa kepada rakyat Mesir. Saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan kerabatnya. Semoga Allah mengampuni Anda,” pungkas Erdoğan.

Dari Tunisia, pemimpin Gerakan En-Nahdha, Rached Ghannouchi, dalam akun resminya  membuat pernyataan belasungkawa plus ajakan pada rezim as-Sisi untuk berpikir bagi masa depan Mesir. Wafatnya Mursi, kata Ghannouchi, (diharapkan) “mengakhiri penderitaan dan pembebasan ribuan tahanan politik dan untuk membuka dialog antara berbagai partai politik untuk kehidupan politik yang demokratis.”

Ketika di tengah kita seteru berkelompok itu masih saja hadir, perjalanan Muhammad Mursi amat pantas untuk jadi pelajaran berharga. Baik Erdoğan maupun Ghannouchi, keduanya menempuh pendekatan politik berbeda dengan Ikhwan di bawah Mursi dan kawan-kawan. Keduanya pula yang dikabarkan menasihati Mursi untuk berhati-hati menghadapi militer yang waktu itu disangka baik Ikhwan sebagai bakal mitra.

Beda di masa lalu tak berarti hapuskan rasa sayang pada al-akh di medan juang dakwah. Persis dilakukan Erdoğan dan Ghannouchi. Ya, inilah pelajaran amat penting bagi kita: tentang fokus pada siapa kita antusias membuka telinga lebar-lebar. Jangan sampai kita cepat puas atas capaian yang ada. Juga, di lain pihak, jangan sampai kita salah mendengarkan masukan para al-akh yang ajak berislam secara paripurna tapi ditempuh harus secara seketika. Siapa dinyana, sang jenderal as-Sisi yang dipercaya ternyata musuh laten. Siapa sangka, kalangan yang selalu mengajak tampil saleh ala manhaj Salaf lantas menggebu mengajak kita mengikuti jalannya, kelak malah bakal berkhianat: An-Nour.

Menyebut nama Mursi rasanya juga perlu hadirkan nama Khairat El-Shater. Nama yang muncul dari internal Ikhwanul Muslimun sebelum akhirnya didiskualifikasi dalam pencalonan presiden seusai Arab Spring 2011. Inilah tentang kesetiaan. Sebagaimana perlunya disebut nama Abdel Moneim Aboul Fotouh, yang memilih berseberangan dalam ijtihad siyasi tentang siapa yang maju sebagai calon presiden dari sayap politik Ikhwan.

Mursi yang kini merengkuh jalan syahidnya insyaallah akan terus dikenang oleh para aktivis Islam. Betapapun berbeda jalan perjuangannya. Karena ada pelajaran dari sisi kegagahannya dalam memperjuangkan idealisme Islam. Baik saat Mursi di bawah tekanan rezim Hosni Mubarak hingga hari-hari dalam bayangan fitnah dan siksaan di penjara. []

Share this: