HomeLife HackPetualanganku Mencari Pecel Lele yang Enak

Petualanganku Mencari Pecel Lele yang Enak

Life Hack 0

Share this:

“Pecel lele yang enak bukanlah pecel lele yang tersaji di restoran-restoran mahal, tapi ia justru ada di warung-warung tenda pinggir jalan.” 

Kalimat diatas mungkin terdengar seperti sebuah apologi bagi sobat misqueen, namun sepanjang petualangan saya mencari pecel lele, saya mendapati bahwa pecel lele yang enak memang tidak tersaji di restoran mewah. Kalau lebih mahal sih, iya. 

Alasanku suka dengan pecel lele sebenarnya simpel saja; gampang nyarinya dan banyak. Selain itu, masakannya simpel; cuma lele atau ayam atau bebek digoreng plus sambal dan lalapan. Dengan harga yang cukup 15ribuan, kita sudah bisa makan kenyang.

Aku yakin bila ada partai politik yang bisa mewadahi kepentingan para pecinta pecel lele, pasti partai itu bakalan meraih suara yang meroket. Selain warung burjo dan warung nasi padang, warung pecel lele adalah para penjajah yang militan dan tersebar dimana-mana. 

Selama perjalananku dalam mencari pecel lele yang enak, ternyata aku berhasil membangun sebuah teori yang bisa digunakan oleh siapa saja untuk mengidentifikasi sebuah warung pecel lele.

Ada ciri-ciri umum dan ada ciri-ciri khusus. Yang aku maksud ciri-ciri umum adalah hal-hal yang tampak langsung dari kejauhan, sedangkan ciri-ciri khusus baru bisa kita ketahui saat pecel lelenya sudah ada di hadapan kita.

Ciri umum yang pertama adalah pastikan kamu mencari warung tenda pecel lele yang ada tulisannya “Lamongan.”

Mengapa? 

Ini seperti sebuah rahasia umum bahwa orang-orang yang berasal dari Lamongan tampaknya adalah ahlinya ahli pecel lele. Ya, seperti kalau mie ayam ya cari mie ayam Wonogiri. 

Biasanya tenda penutupnya mempunyai latar belakang putih. Terbuat dari kain bukan dari bahan em-em-te. Lalu ada gambar-gambar semacam lukisan, mulai dari ayam, lele, puyuh, bebek dan tempe tahu. 

Oh, iya, perhatikan bila di tendanya ada gambar terongnya, maka itu artinya si penjual berasal dari Lamongan bagian selatan. Kalau tidak ada gambar terongnya itu berarti si penjual berasal dari Lamongan bagian utara. Informasi rahasia ini aku peroleh setelah menginterogasi salah satu penjual asli Lamongan yang aku temui beberapa hari yang lalu.

Entah mengapa pecel lele yang enak selalu berasal dari tangan-tangan orang Lamongan yang merantau. Ironisnya, berdasarkan infomarsi A1, di Lamongan sana warung pecel lele ternyata tidak seramai di Jogja.

Walau hal itu tidak menjadi patokan. Di dekat rumahku, di Mlati, ada juga penjual pecel lele yang tampaknya tidak memasang tenda bertuliskan Lamongan. Warungnya berada tepat di depan masjid Kronggahan.

Warung itu termasuk salah satu langgananku, walau aku belum menggali informasi lebih lanjut, apakah penjualnya berasal dari Lamongan atau bukan.

Tapi bila kamu bingung saat berada di jalanan, lalu ingin banyak warung tenda pecel lelel, salah satu ciri umum yang sudah aku buktikan validitasnya adalah ciri umum yang sudah ku jelaskan diatas. 

Bisa saja hasil penemuanmu nanti berbeda. Semua tergantung selera dan isi kantong. 

Ciri khusus pecel lele yang enak salah satunya adalah nasi yang dihidangkan selalu satu piring full. Untuk ukuran saya, porsi nasinya selalu berlebih. Tapi berdasarkan penjual pecel lelenya, porsi segitu sebenarnya adalah hal biasa.

Maka, bagi kamu yang makan dengan porsi nasi sedikit, lebih baik bilang terlebih dahulu sama penjualnya agar tidak kekenyangan.

Selain itu, pecel lele yang enak punya ciri khusus pada sambal dan hasil gorengan lele atau menu yang lain. Bicara soal sambal, inilah sebuah kunci dari kunci menu pecel lele yang maknyus. Tak ada pecel lele yang enak tanpa sambal yang enak.

Sambal yang enak, menurutku, adalah yang tidak terlalu pedas. Juga tidak terlalu manis. Itulah sambal pecel lele yang pas. Yang membuat lidah kita tidak kesakitan, namun juga masih bisa merasakan ‘cubitan’ cabai.

Sambal pecel lele yang enak menurutku adalah yang mampu membuat kita makin lahap makan. Bukan yang membuat ‘kepedesen.’ Mungkin itu juga alasan mengapa nasi putih yang dihidangkan selalu satu piring penuh, karena di ‘boost’ oleh sambal yang khas.

Memang semua pecel lelel menghadirkan menu goreng. Lele yang digoreng, ayam goreng, bebek goreng dan lainnya. Tapi walau sama-sama di goreng ternyata selalu ada perbedaan yang signifikan antara satu warung dengan warung yang lain.

Pecel lele yang enak selalu menghadirkan menu goreng yang kemripik. Yang, bila lele, bahkan sampai kepalanya bisa dimakan habis. Saking kemripiknya. 

Nah, bayangkan sajian menu yang dagingnya empuk, kempripik, ditambah dengan sambal yang menggugah selera, itulah pecel lele yang menurutku ‘ultimate’ dan ditambah lalapan. 

Untuk soal lalapan aku kira semua hampir sama; kubis, daun kemiri, dan beberapa potong timun.

Selama petualanganku, ada dua warung pecel lele yang menurutku layak dicoba. Pertama adalah warung pecel lele Cak Antok. Yang spesial di warung ini adalah ukuran lelenya yang besar-besar. Lokasinya bisa kamu cek di google. Atau klik link ini saja.

Kedua, warung pecel lele Anindtya. Letaknya di Bekelan, Tirtonirmolo. Yang spesial di warung ini ada tambahan menu berupa ikan bandeng. Kapan-kapan bila kamu lewat daerah sekitar itu, silahkan bisa mampir. 

Dan yang pasti, ada satu situasi dimana pecel lele pun bisa terasa sangat sangat enak, yaitu saat perut kelaparan dan duit pas-pasan, disitulah akan tampak betul bahwa Gusti Allah karunianya benar-benar besar. Dan itu bisa mengantarkan kita untuk lebih bersyukur pada Gusti Allah. 

“Alhamdulillah, syukur bisa makan pecel lele.”

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *