HomeEsai & OpiniPilpres 2019 adalah Hunain: Kemerdekaan dalam Pandangan dan Perhitungan Allah

Pilpres 2019 adalah Hunain: Kemerdekaan dalam Pandangan dan Perhitungan Allah

Esai & Opini 0

Share this:

Hunain, pasca Fathu Makkah menjadi tempat bersejarah. Tempat bertempur penuh semangat optimisme. Tentulah optimis, jika biasanya pasukan muslimin berjumlah sedikit. Berbilang jauh lebih kecil dibanding lawan, kini jumlah mereka setelah mekah takluk berkisar 12.000. Jumlah yang lebih besar dibanding koalisi pasukan kafir yang mengepung Madinah. 

Jumlah yang begitu besar sampai Madinah pada saat itu bahkan tidak memungkinkan dilakukan sholat seperti biasa. Ijtihad yang diambil saat itu ialah menjamak. Puncaknya dzuhur, ashar, maghrib, dan isya bersamaan. Empat waktu dalam satu waktu.

Maka di Hunain, tempat yang bersejarah itu, adalah hal yang manusiawi jika ada sebagian kaum muslimin berbangga. Jika dengan 300 mereka perkasa, 700 mereka selamat, 3000 mereka bertahan.  12.000 tentulah mereka menang! Tidak mungkin dikalahkan, apalagi mundur ke belakang. Tetapi di Hunain, di tempat yang bersejarah itu, Allah kembali memberikan pelajaran nan agung.

Sebelum hari H perperangan, kaum muslimin bangga dan jumawa. Ketika hari H peperangan, baru diawal-awalnya, kamu muslimin di hujani panah. Pasukan berjumlah 12.000 yang tidak mungkin dikalahkan, apalagi mundur kebelakang dalam logika dan nalar manusia itu, akhir pecah, ketakutan, bahkan lari tunggang langgang ke belakang. 12.000 insan dalam pasukan itu tersisa 80 saja yang masih membersamai Rasulullah.  

Komando pasukan harus memanggil pasukan yang tercerai berai, mengingatkan akan janji Allah, dan baiat kaum muslimin kepada Rasulullah. Maka berangsur-angsur kaum muslimin kembali ke barisan.

Agaknya mirip dengan kondisi kaum muslimin saat ini sekitaran pemilu 2019. Jumlah yang besar dan dibersamai para habaib dan ulama, pewaris Rasulullah. Di Hunain, jumlah yang besar dan dibersamai Rasulullah. 

Jumlah yang besar sampai-sampai salah seorang mengatakan, “Kita tidak akan kalah hari ini karena kekurangan suara”. Di Hunain, jumlah yang besar sampai-sampai salah seorang mengatakan, “Kita tidak akan kalah hari ini karena kekurangan pasukan”.

Awalnya berpongah-pongah dengan jumlah, kemudian saat panah-panah Quick Count berluncuran dari udara, bubar jalan. Kecuali segelintir orang saja. Maka sang jendral melaksanakan tugasnya, memanggil kembali ke barisan. Satu kali, dua kali, tiga kali dan perlahan-lahan barisan mulai teratur.

Jika di Hunain yang dibersamai Rasulullah, manusia paling bertakwa, tapi karena satu saja kesombongan lantas kelak Allah turunkan ayat:

Allah telah menolong kalian dalam banyak kesempatan. Dan ingatlah ketika perang Hunain, saat kalian merasa takjub dengan banyaknya jumlah kalian. Akan tetapi itu tidak berguna sedikitpun bagi kalian, sehingga bumi terasa sempit bagi kalian dan kalian lari tunggang-langgang. [at-Taubah/9:25].

Bagaimana di 2019, sedang yang mendampingi bukan Rasulullah dan tidak hanya satu kesombongan yang dimunculkan?

Mungkin. Mungkin saja, karena kita mulai lalai dalam mengingat Allah. Kita alpa karena jumlah, sehingga ikhtiar melemah dan mudah goyah. Kita lupa bahwa kemenangan tidak melulu soal jumlah, tetapi lebih kepada tegaknya nilai-nilai ilahiah. Kurangnya ikhtiar dalam perencanaan dan lain sebagainya akan menjadi bahan belajar ke depan. Tetapi pengawalan akan nilai-nilai ilahiah tetap terus diupayakan. Dan harusnya kita merenung, dan kemudian terhentak sadar, bahwa sedikit kelalaian dalam mengingat Allah, melalaikan kita dalam ruang ikhtiar kita.

Di sinilah jihad kaum muslimin yang sesungguhnya. Mengawal nilai-nilai ilahiah sampai habis darah. Ia mengatakan yang hak adalah hak, betapapun kecilnya. Ia mengatakan yang batil tetap batil, tak peduli kecilnya. Apa lacur jumlah besar tapi integritas dan amanah ikut pula hancur. Dan betapa agung yang tak lebih besar tetapi nilai-nilai dijunjung. Kemerdekaan kita dalam menjunjung nilai-nilai ilahiah adalah kemerdekaan yang paling mendasar.

Kawal, kawal, dan kawal nilai-nilai kejujuran.

Selama belum habis masa, belum habis tenaga, dan belum juga hasilnya paripurna, maka selalu ada ruang ikhtiar yang tersisa. Tugas berikutnya adalah mengisi ruang ikhtiar itu sepenuh-penuhnya, dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Jika habis sudah, buntu sudah, dan dicapai batas usaha sudah. Maka yang terakhir adalah berpindah dari ruang ikhtiar, masuk ke dalam ruang tawakal. Menyerahkan kesemuanya kepada Allah semata.

Menginsyafi bahwa kemenangan itu tidak terletak pada hal-hal yang kasat mata, tetapi lebih kepada keridaan Allah semata. Mengikhlaskan seluruh daya juang kepada putusan terakhir dari Allah. 

Ikhlas seikhlas-ikhlasnya.

Di sisi lain dalam ruang tawakal itu, ada pula harapan. Harapan akan dikabulnya doa-doa lama. Metode-metode ilmiah dalam statistik sejatinya adalah metode dalam memetakan kemungkinan. Kemungkinan besar dan ada pula kemungkinan kecil bahkan sangat kecil. Kemungkinan kecil dan sangat kecil bukannya tidak mungkin terjadi. Hanya saja ini amat jarang terjadi, oleh karena itu dinamai mukjizat atau keajaiban.

Di dalam ruang tawakal ini, kita memohon akan mukjizat dan keajaiban itu. Berharap bahwa ikhtiar dan keinsyafan kita diridai Allah dan dihadiahkan mukjizat! Mukjizat berupa nilai-nilai yang terjaga dan didapatnya kuasa. Berharap kemerdekaan.

Jika diketahui bahwasanya 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa Indonesia, kemudian ada yang menerawang 17 April adalah hari kemerdekaan akal sehat. Saya berharap akan adanya mukjizat. Perhitungan-perhitungan akan paripurna 22 Mei, tetapi saya berharap perhitungan seputar pemimpin selesai 14 Mei. 

Apa istimewa 14 Mei? 

Menurut perhitungan waktu di sisi Allah, bertepatan dengan 9 Ramadhan. Waktu merdeka bangsa Indonesia, menurut perhitungan Allah! 

InsyaAllah di waktu itulah keinginan insani bertemu dengan kehendak ilahi. 

InsyaAllah bangsa ini akan kembali merdeka. InsyaAllah bangsa ini akan menyambut pemimpin barunya. InsyaAllah, jika Allah mengehendaki. Maka teruskan doa-doa mengetuk pintu langit, karena di sanalah kemerdekaan sejati! Kemerdekaan dalam pandangan dan perhitungan Allah!

Share this: