HomeUncategorizedPindah Ibu Kota? Akhirnya Juga ‘ke Jakarta Aku kan Kembali..’

Pindah Ibu Kota? Akhirnya Juga ‘ke Jakarta Aku kan Kembali..’

Uncategorized 0

Share this:

Ngomongin pindahnya ibukota Indonesia itu kok rasa-rasanya seperti ngobrolin sesuatu yang kita sudah tahu ujung pangkalnya kemana. Kita sudah ngerti obrolan itu hanya akan berakhir dalam sebuah ‘wacana’ semata. Kalau tidak menyebut sebagai omong kosong. 

Kini wacana soal pindah ibu kota ramai lagi diperbincangkan. Tidak lain tidak bukan gara-gara Pak Jokowi juga nih. Kepastian tentang perencanaan perpindahan ibukota negara tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pasca rapat terbatas antara Presiden dan sejumlah menteri pada Senin, 29 April 2019 lalu.

Kenapa sih pindahnya ibukota dianggap cuma wacana doang? Ya, karena rencana ini cuma berakhir di rencana doang, sejak jaman Hindia Belanda dahulu. 

Pada jamannya Pak Herman Willem Daendels (1762-1818), ibu kota sudah mau dipindah dari Batavia ke Surabaya. Pak Daendels -yang terkenal karena bikin jalan raya Daendels itu- ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Surabaya.

Alasannya, karena di Batavia banyak sumber penyakit. Juga karena di Surabaya ada benteng dan pelabuhan buat pertahanan. Namun sayang, renacana itu gagal di tengah jalan. 

Setelah merdeka, Bung Karno juga ingin memindahkan ibu kota. Pindah jauh ke Kalimantan. Tepatnya di Palangkaraya. Bung Besar memilih nama Palangka Raya untuk kota baru itu, yang berarti “tempat suci, mulia, dan agung”. 

Eh, tapi niat itu berakhir pada peringatan ulang tahun ke-437 Jakarta tanggal 22 Juni 1964, Bung Karno akhirnya menetapkan Jakarta sebagai ibu kota negara lewat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964. 

Lalu datanglah era baru. Orde baru dibawah kepemimpinan Bapak Pembangunan, Soeharto. Sempat muncul gagasan menjadikan daerah Jonggol, Bogor, sebagai ibu kota. Tapi sebelum rencana itu kesampaian, Pak Harto tumbang duluan oleh reformasi 1998. 

Tapi, ya, saya yakin juga sih walau Pak Harto masih menjabat sebagai Presiden, ibu kota juga gak bakalan kemana-mana. 

Konon kabarnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan sudah membentuk tim khusus yang tugasnya meneliti dan mengkaji pemindahan ibu kota lho. Namun selama 10 tahun hasilnya juga tak jelas muaranya. 

Lha, itu tim khususnya kasian banget dong ya? Udah kerja capek-capek tapi gak dianggap. 

Sebenarnya ibu kota Indonesia pernah pindah ke Jogja. Itu terjadi sewaktu Belanda berniat kembali lagi untuk menjajah Indonesia. Karena Jakarta dibombardir sama tentara Belanda dan keadaan tidak aman, maka terpaksa ibu kota dipindah ke kota yang terdiri dari rindu dan angkringan ini. 

Sudah banyak alasan mengapa ibu kota perlu pindah. Sudah banyak kajian yang mendukungnya, tapi keputusan politik tetap sulit dibuat. 


Walau Jakarta sudah penuh sesak. Walau macetnya Jakarta sudah menimbulkan kerugian triliunan rupiah. Tapi semua itu tidak bisa mengusik status Jakarta sebagai ibu kota kita semua. 

Pindah ibu kota memang tidak semudah pindah kos. Karena itu penting bagi pemerintah untuk memperhatikan dampak sosial ekonominya. 

Kita tidak ingin kan, pindah ibu kota itu sama artinya memindah kemacetan dan kerumitan Jakarta ke daerah lain. 

Ah, tapi kan kita sudah tahu ujung cerita obrolan ini. Seperti lagunya Koes Plus itu; ke Jakarta aku kan kembaliiiiii…..

Share this: