HomeEsai & OpiniPolitik, dan Ruang Publik

Politik, dan Ruang Publik

Esai & Opini 0

Share this:

Politik adalah seni menjaga kepentingan. Kepentingan buat siapa? Ini bukan lagi tanya praktis, malah mengarah ke soalan ideologis dan metafisis.

Kalau bagi diri sendiri, yang penting nyaman dan makmur, maka politik akan melekat dan bermakna tunggal: ajang pragmatis mempertahankan status quo keperluan kita atau kelompok sendiri. Selagi hajat kita aman, tidak diusik, kita pun merasa tidak perlu melakukan keseriusan menolehi idealisme yang pernah diretorikakan di mana-mana.

Alhasil, politik jadi arena banal dan binal belaka. Sudah tentu, politik yang demikian bukan lagi seni yang menarik. Monoton karena mudah ditebak: ke mana angin kekuasaan bertiup, di situ kita merasa agar semua hajat dipenuhi.

Seolah idealisme dalam wujud konsisten bersikap itu bukan seni politik. Meskipun begitu, seni bersikap dalam politik tak mesti hitam-putih dan kaku. Tapi juga bukan untuk dimaknai begini: karena politik tak boleh kaku maka jangan lepaskan aspek seninya. Termasuk seni menipu dan berdusta atas ujaran idealisme.

Pemaknaan politik sebagai area abu-abu, ruang negosiasi, kawasan beragam aktor dan kepentingan, semestinya dimaknai sebagian kesempatan untuk menciptakan ruang kepentingan yang melibatkan semua aktor. Ruang publik yang akhirnya dimiliki semua aktor, bukan medan kebanggaan untuk merasa pantas halalkan pelbagai modus dan cara.

Pendekatan politik yang pragmatis sejatinya sudah menjalar sebagai mazhab bertingkah. Menjemukan sebenarnya tapi publik juga sering menilai mewah pada perilaku politikus yang lincah dan piawai bersiasat jahat (sampai hukum bisa diakali). Seakan mereka hebat.

Sama halnya ketika publik kagum pada kemampuan politik seseorang tapi dengan ukuran sang politikus tersebut selamat dari badai politik dengan cara jeli menyeberang lewat perahu demi perahu partai politik. Tidak lebih dengan gonta-ganti jas partai tanpa ada narasi atau diskursus publik yang beda buat memajukan publik. Yang diincar hanya jabatan atau, paling tidak, jaminan politik; bukan kegelisahan beride yang ingin dihadirkan ke ruang publik.

Ruang publik politik kita yang tidak bermutu semacam itu kian parah bilamana kekuasaan yang dominan ingin eksis dengan tiga perilaku munafik. Pertama, tindakan kekuasaan dipenuhi praktik dusta. Kedua, orientasi kekuasaan tidak untuk berkhidmat pada amanah rakyat. Ketiga, kekuasaan begitu mudah amnesia pada janji; tidak ada komitmen selain buat diingkari dan dibantahi.

Pada rujukan politik yang serta kebanalan dan kebinalan, lantas bersua dan berakrab dengan pemegang kekuasaan munafik, maka lahirlah politik biadab. Di situlah hadir politik yang mudah melepaskan adab, tidak lagi memerhatikan bagaimana adab mesti dihargai. Saat yang sama, di kubu pemegang kekuasaan, mereka mudah menarasikan pembiadaban ke lawan-lawannya yang kritis.

Di sisi lain, ihwal kedewasaan berpolitik sebenarnya bukan soal bagaimana politikus cerdik mempertahankan kepentingan di atas kesempatan yang terbatas. Bahkan saat membuat siasat di masa kekuasaan penuh tebaran praktik politik biadab sekalipun. Sayangnya, kita kagum dan respek pada politikus demikian. Sepantasnyalah kita alihkan pemaknaan kedewasaan berpolitik itu tak hanya soal menjaga idealisme dan sikap konsisten. Idealisme dan sikap konsisten masih perlu diteruskan, yakni menjaga ruang publik.

Di titik inilah faktor umur sesungguhnya tak selalu linier dengan kematangan kedewasaan berpolitik sang politikus. Baik yang sudah berjam tinggi atau masih pemula bahkan yang dipaksa lingkungan buat masuk arena. Kesiapan dan keseriusan buat belajar dan berani menempuh akselerasi kapasitas diri, dua hal inilah yang lebih pantas dicari.

Ini agar kita hadirkan warna politik yang menjaga komunikasi deliberatif; komunikasi yang melibatkan semua pihak dalam panggung politik. Tanpa sekat dan manipulasi tanda. Perdebatan seru yang ada, dengan demikian, merupakan resultan ikhtiar gigih dari kerja intelektual mencari ruang ideal bagi publik. Bukan ruang kesempatan memperkaya diri dan kelompok. []

.

N.B.: esai ini disusun spontan saat membaca berita 90 tahun J├╝rgen Habermas (filosof Jerman yang saya apresiasi pemikirannya sejak dua windu lalu) bersamaan kabar gaduh di Twitter atas ucapan “berkhianat” seorang politikus muda Partai Amanat Nasional. Juga sumbang saran atas, katanya, bakal partai anyar.

Share this: