HomeEsai & OpiniRamai-Ramai Gunakan Jargon Paling Islami

Ramai-Ramai Gunakan Jargon Paling Islami

Esai & Opini 0

Share this:

Harus diakui bahwa pemilih terbesar di Indonesia adalah umat Islam. Dan dalam setiap pemilu, suara umat islam sudah hampir pasti bakalan jadi rebutan. Terutama dalam pemilu 2019 ini.

Sehingga wajar semua partai politik tidak ingin kehilangan ceruk pasar umat Islam. Setiap menjelang pemilu ramai-ramai partai, mulai dari haluan mentok kanan sampai mentok kiri, menampilkan citra keislaman. 

Misalnya saja, memakai krudung dan busana muslim, padahal sehari-hari orang tersebut tidak berhijab. 

Bahkan yang notabene tokohnya beragama non Islam, berupaya menampilkan simbol-simbol Islam. Dari peci atau songkok, baju taqwa hingga kunjungan ke pesantren. Semangatnya sama, agar mendapat simpati umat Islam. 


Walaupun kita tidak bisa menebak niat seseorang, namun cukup naif bila pemakaian atribut-atribut islami tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan motif politik. Pun tak hanya itu, di semua partai hampir bisa dipastikan selalu ada departemen atau bidang keagamaan. PDI-P saja punya Baitul Muslimin. 

Di Pemilu 2019 ini, hanya PSI yang secara terang-terangan berusaha mendobrak “suara mayoritas umat islam” dengan menyerang isu perda syariah dan menolak poligami. 

Tentu, ada juga yang berlomba ingin mengatakan kami paling Islami. 

“Pilih kami, karena kami paling Islami. Yang lain hanya kosmetik,” begitu inti dari pesan jargon dan slogan kampanyenya. 

Sebentar…

Semestinya kita patut merenung, kira-kira seberapa besar umat Islam yang terpanggil dengan isu pilih partai Islam? Berdasarkan pengalaman pemilu selama ini, partai islam di Indonesia belum pernah menjadi pemenang di negara mayoritas beragama islam ini. 

Islam adalah solusi. Secara konsepsi, Islam hadir di muka bumi ini sebagai solusi. Konsepsi Islam adalah jawaban semua persoalan. Karena itu jaminan Allah SWT. Islam ini telah sempurna dan paripurna. 

Hanya saja kita cenderung lebih sibuk dengan judul ketimbang dengan substansi. Sehingga masih jarang mengeksplorasi konsepsi Islam ke dalam formula yang lebih aplikatif. Sebenarnya seperti apa solusi Islam atas masalah A, B, C hingga Z. 

Sekali lagi, kita baru sampai tahap yakin (dan ngotot) bahwa Islam adalah solusi. 

Letak persoalan dalam jargon paling islami adalah hanya menggunakan jargon itu untuk menarik simpati massa sedangkan praktiknya dalam kebijakan politik, bisa jadi jauh panggang daripada api. 

Karena itu masih diperlukan perumusan formula kebijakan politik yang tepat oleh para politisi dan aktivis islam. Sehingga tawaran yang diberikan merupakan solusi nyata atas problematika masyarakat dan bangsa. 

Bukan sekedar jargon kosong. Bukan cuma sekadar simbol. Bukan sekadar berhenti kepada judul bahwa Islam adalah solusi. 

Share this: