HomeEsai & OpiniSang Pembidas

Sang Pembidas

Esai & Opini 0

Share this:

Di medan Mu’tah, pertemuan Muslimin versus Romawi ibarat David versus Goliath. Sebanyak 3000 Muslimin berhadapan dengan pasukan bersenjata canggih pada masanya dengan skuad “hanya” 200.000!

Amat manusiawi ada lintasan kegentaran di dada Muslimin depan front tempur. Tiga putra terbaik ditunjuk sebagai pemegang komando tertinggi, secara berurutan: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah. Penunjukan dengan urutan sudah isyaratkan betapa dahsyat peperangan yang terjadi.

Di medan tempur Mu’tah, demikian urutan itu berlaku. Zaid dulu, disusul syahidnya Ja’far yang menggantikan Zaid. Dan Ibnu Rawahah menggantikan posisi Ja’far, sebagai pemegang komando sebelum akhirnya syahid. Tiap nama ini wafat dan panji pasukan Islam terjatuh, Rasulullah sampaikan secara “laporan langsung”. Dilaporkan dari jauh di atas mimbar Madinah, seakan beliau melihat langsung dahsyatnya pertempuran.

Selepas Ibnu Rawahah syahid, Rasul tidak sebutkan nama. Beliau hanya sebut, “Akan tampil Pedang Allah, dan kemenangan pun diraih.” Di lokasi tempur, bertepatan Rasulullah berkata begitu, Tsabit bin Aqram serahkan panji yang kosong kepada Khalid bin Walid, lelaki yang baru berumur 3 bulan sebagai Muslim.

Sejarah mencatat, di tangan Khalid, Saifullah dimaksud dalam sabda Nabi, Muslimin raih kemenangan gemilang. Kemenangan di persuaan perdana negara bakal pemimpin peradaban dengan peradaban mapan ketika itu. Satu momen kebangkitan hadirnya gelombang perubahan di waktu berikutnya.

Kalau ada lelaki saleh, muda tapi peragu, bertanya padamu, “Kapan gelombang itu datang hingga tampil di lima besar dunia?” Maka, jawab: “Mungkin tak berbeda, dengan modifikasi tertera secara minor insyaallah, dari kemunculan Pembidas Gelombang pasukan Romawi di Mu’tah.”

Kerja menciptakan gelombang itu, kawan, kolektif dari semua pahlawan kemarin, hari ini dan esok. Orang-orang yang maju memperjuangkan satu narasi kemenangan. Ada yang ditunjuk tapi ada yang anonim. Seperti Khalid, Pembidas Gelombang, kepahlawanan dia memenangkan Muslimin di Mu’tah merupakan buah orang baru yang Rasul saja cukup memberinya gelar. Bukan menyebutkan namanya sebagaimana tiga sahabat pemegang panji Muslimin.

Kita, sebagai kafilah di dalam biduk narasi, diajarkan bukan menanti nama yang ditunjuk. Kita didorong terlibat di proses dan menciptakan sejarah gelombang kemenangan. Siapa nyana Saifullah itu di antara kita. Dan dalam medan Mu’tah, gelar itu “hanya” diraih orang yang masih baru di kafilah dakwah dan anonim kala disebutkan.

Tapi dari Mu’tah, kepahlawanan Pembidas Gelombang itu dicipta. Kepahlawanan untuk hari-hari berikutnya. Kepahlawanan langsung sebagai terbaik, yang pertama dan utama, di antero dunia. Jadi, kawan, ini bukan bab mimpi apalagi ilusi. Ini tentang agregat gelisah perasaan dan pikiran menuju kebangkitan. Dan itu tegak berdiri di atas kepercayaan diri selalu hamba-Nya yang niscaya memperjuangkan jalan takdir. []

Share this: