HomeLife HackTakut dan Cemas dengan Arah Baru

Takut dan Cemas dengan Arah Baru

Life Hack 0

Share this:

Takut dan cemas. Mungkin dua perasaan itulah yang ada dalam sebagian diri kita saat menghadapi hal-hal baru. 

Mungkin memang begitu tabiat manusia. Sejak kecil hingga dewasa. 

Saya jadi teringat dulu sewaktu masuk sekolah pertama kali. Ada ketakutan dengan ruang kelas yang sebenarnya menyenangkan. Ada ketakutan dengan orang-orang yang belum pernah saya kenal.

Saya jadi cemas. Apakah orang-orang ini semuanya baik? Apakah nanti saya bisa pulang? Atau kekhawatiran paling besar; apakah ibu masih ada di luar? Atau jangan-jangan saya sudah ditinggal sendirian.

“Kebaruan, masa depan,” kata seorang penulis, “serbaneka yang belum terjadi, terasa menakutkan karena diselubungi misteri. Sebagian orang, mungkin karena kepalanya penuh wawasan (atau malah  tak berisi apa-apa), menerobos selubung itu secara gagah berani. Sebagian lainnya memilih bercokol di sudut terjauh, gemetar, sampai kebaruan yang terus meluas tak terhindarkan lagi.”

Oleh karena itu, kita lantas mengenal keberanian. Dan menaruh hormat setinggi-tingginya pada orang-orang yang bisa mendobrak rasa takut. 

Kita angkat topi pada mereka karena dengan melihat mereka menerobos hal-hal baru, kita menjadi lebih berani. Rasa takut dan cemas yang hinggap dalam diri kita, perlahan-lahan luruh dan luntur.

Kita angkat topi pada nenek moyang kita. Yang menurut lagu adalah seorang pelaut. Seorang pelaut yang berani menerobos ombak, di hempas ketidakpastian saat ditengah samudera, namun mereka gagah terus berlayar. Akhirnya mereka bisa menemukan pulau-pulau baru. Dan sadar, bahwa dunia tidak sesempit satu kampung!

Tanpa kehadiran orang-orang yang punya keberanian mendobrak hal-hal baru, kita tidak akan pernah merasakan hidup yang seperti sekarang. Kita tidak akan pernah menikmati semua peralatan canggih, tidak akan pernah tahu pesawat terbang, dan bahkan tidak akan pernah tahu bahwa ternyata bumi itu bulat. 

Saya juga takut dengan cemas. Dengan Garbi. Dengan gerakan baru ini. Akan ada apa di masa mendatang? Akan bagaiamana? Apakah nantinya bakal berjalan lancar? Apakah nantinya memang benar bisa membuat Indonesia 5 besar dunia? 

Atau, justru malah menghadirkan kebencian-kebencian dari kawan lama? Atau justru malah saya diasingkan oleh kawan lama?  

Namun pada akhirnya pilihan yang ada cuma terus melangkah. Satu-satunya cara menyingkap kebaruan, menyingkap misteri yang belum kita tahu, adalah dengan cara menjalaninya. Mengalaminya secara langsung.

Anis Matta mengibaratkan kita sedang menaiki sebuah kapal. Hal yang paling berat saat berada di dermaga adalah melambaikan tangan. Berpisah dengan kawan lama. Namun, hal itu tentu saja hanya sebentar. 

Yang bakalan lebih berat untuk dihadapi adalah terjangan ombak dan badai di lautan. Dengan fokus menghadapi hempasan badai -yang kelak akan kita hadapi- maka kita lebih mudah untuk melupakan hal-hal yang telah lalu. Pun dengan penuh keyakinan, bahwa akan ada pulau tujuan tempat kita berlabuh. 

Sedikit keberanian untuk melangkah, lebih berarti daripada terus ‘ngrungkel’ dengan ketidaktahuan, ketakutan dan kecemasan. 

Share this: