HomeLife HackTentang Perubahan Selera Buku

Tentang Perubahan Selera Buku

Life Hack 0

Share this:

“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca,” kata Najwa Shihab. Presenter talk show yang kini menjadi duta baca. Walau saya terkadang tak sepenuhnya setuju dengan berbagai pendapatnya, tapi untuk pernyataan tentang jatuh cinta pada buku itu, saya terpaksa menganggukkan kepala.

Sejak kecil saya sudah suka membaca. Dan buku yang membuat saya jatuh cinta dengan membaca adalah; Majalah Donal Bebek.

Ibu saya selalu membelikan majalah itu saban senin dan kamis. Waktu saya kecil, majalah itu terbit dua kali seminggu. Lalu saya akan membacanya berulang-ulang majalah tipis itu. Pun tak hanya itu, terkadang ibu juga membelikan majalah Paman Gober. Juga tak ketinggalan; majalah Bobo.

Membaca, bagi saya saat duduk di bangku kelas dasar itu, adalah teman untuk mengarungi hari. Teman untuk saya yang hampir setiap pulang sekolah, selalu mendapati rumah yang sepi. Kedua orang tua saya sibuk mencari duit ke pasar dan pulang pada sore hari.

Selera membaca saya berkembang tidak hanya menyukai komik dan buku bergambar. Sewaktu duduk di SMP saya mulai terbiasa membaca teks tanpa gambar saat membaca buku Kahlil Gibran; Sayap-Sayap Patah.

Buku itu betul-betul berkesan. Walau harus saya akui dengan jujur bahwa saya juga tak begitu paham isinya. Namun buku itu saya baca dengan begitu antusias sampai halaman terakhirnya. Sejak itulah saya mulai tertarik dengan buku-buku yang lain. Meraba-raba dan mencari-cari adakah buku bagus lain yang bisa membuat saya membaca dengan rasa yang sama.

Pencarian itu membawa saya untuk mengenal Sherlock Holmes, Agatha Christie, Habiburakhman el Shirazi (sumpah, saya meneteskan air mata dengan membaca Ayat-Ayat Cinta), tentu saja tak ketinggalan; Harry Potter. 

Itu semua saya kenal saat saya SMA.

Dan sewaktu duduk di bangku kuliah, selera bacaan beralih ke Pram, teori-teori politik, teori konspirasi, buku-buku propaganda, dan tak lupa buku tsaqafah dunia islam. 

Seiring keterlibatan saya di sebuah organisasi gerakan kampus berbasis islam inilah kemudian saya juga menggandrungi buku-buku pemikiran islam. Ada karangan Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa. Bercerita tentang penelitian Yudi Latif mengenai para intelektual muslim di Indonesia. Buku dengan lebih dari seribu halaman ini masih tersimpan rapi di rak rumah. Mau saya sumbangkan rasanya ‘eman-eman.’ Ia adalah bagian dari sejarah yang membentuk pemikiran saya sampai saat ini.

Kebanyakan buku yang saya baca di bangku kuliah adalah buku-buku tentang pemikiran dan gerakan sosial. Dan banyak pula tentang konspirasi. Ya, teori konspirasi. Yang beberapa waktu ramai lagi. Sebenarnya itu bukan hal baru.

“You are what you read,” kata sastrawan Irlandia, Oscar Wilde. Kalimat itu seakan ingin menyatakan bahwa diri kita bisa dilihat dari buku-buku yang kita baca. Oscar ingin mengajarkan pada kita bahwa kualitas diri seseorang didapatkan dari hasil bacaan yang ia peroleh.

Misalnya, orang yang suka membaca komik, dari kecil hingga dewasa, bisa jadi merupakan orang yang ‘childish.’ Orang yang suka membaca buku pengembangan diri adalah orang yang ingin selalu berkembang. Dan contoh lainnya, orang yang bacaanya adalah buku bertema politik, bisa jadi bakalan jadi pengamat politik mumpuni. Minimal pengamat politik amatiran.

Di usia saat ini, sebenarnya selera bacaan saya tak banyak berubah. Saya masih suka membaca novel —kini berusaha mengoleksi seluruh karya Haruki Murakami. Saya juga masih membaca komik, terutama One Piece yang entah sampai kapan tamatnya.

Namun, ada satu lagi tema buku bacaan yang kini baru saya gemari. Yaitu buku-buku semacam Maraqi al-Ubudiyah, Tadzkiratul Aulia, Risalah al-Imam, dan semacamnya. 

Buku-buku itu adalah tipe buku yang hampir pasti tidak akan pernah saya sentuh sewaktu muda dahulu. Isinya kebanyakan adab beribadah, kumpulan kisah hikmah para wali, dan wirid-wirid yang panjang. Tapi, entah mengapa, kini saya malah lebih suka membaca buku-buku seperti itu.

Buku-buku yang semestinya sudah ditamatkan oleh para santri junior, tapi baru saya baca sekarang. Akibat absen membaca buku-buku seperti itu, saya kadang jadi tidak begitu paham mengenai adab dan fiqih ibadah. 

Saya mesti akui bahwa keluarga saya bukanlah keluarga yang termasuk golongan santri dalam kategori yang dibikin Clifford Gertz. Sejak kecil kedua orang tua saya memang agak lemah dalam mengajarkan pendidikan agama. Kebanyakan soal agama dan ritual ibadahnya, saya dapatkan di bangku sekolah. 

Saya ingat pernah menangis gara-gara melihat buku kegiatan Ramadhan hampir kosong separuh pada tabel sholat tarawih. Ya, karena memang Bapak hampir tidak pernah mengajak tarawih pada bulan puasa. Untuk ke masjid sendiri, jaraknya terlalu jauh. Dan saya terlalu takut untuk berangkat sendiri.

Selalu ada perubahan selera pada buku. Dan mungkin hal itu seiring dengan bertambahnya usia kita. Makin tua kadangkala lebih asyik membaca buku yang makin mendekatkan diri pada Tuhan. Untuk beristirahat sejenak gegap gempita dunia wacana yang amat melelahkan. 

Share this: